WASHINGTON (Arrahmah.id) - Meski aksi saling serang militer terus meningkat dalam dua hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih mempertahankan jalur komunikasi untuk mencari solusi diplomatik. Seorang pejabat AS menyatakan pada Kamis (9/7/2026) bahwa Washington tetap berkomitmen untuk menyelesaikan krisis melalui perundingan teknis yang masih terus berlangsung.
Situs berita Axios melaporkan bahwa sejumlah negara perantara, termasuk Qatar, Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan Turki, saat ini tengah melakukan upaya intensif untuk meredam ketegangan. Pada Rabu (8/7), para pejabat dari negara-negara tersebut melakukan serangkaian komunikasi telepon dengan pihak AS dan Iran guna menstabilkan situasi dan menjadwalkan kembali perundingan teknis.
Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap semua upaya untuk meredam eskalasi. Dalam komunikasi telepon dengan para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Iran, pihak Qatar menekankan pentingnya mencapai kesepakatan komprehensif demi stabilitas dan perdamaian abadi di kawasan.
Di tengah eskalasi militer, masa depan Memorandum of Understanding (MoU) yang ditengahi oleh Pakistan kini berada di titik nadir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam serangan udara AS sebagai pelanggaran terhadap MoU tersebut. Namun, pihak mediator menilai bahwa keberlangsungan kesepakatan ini kini sangat bergantung pada tindakan nyata Iran di lapangan.
Beberapa mediator menduga bahwa serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, yang memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump, kemungkinan besar merupakan tindakan elemen garis keras di dalam pemerintahan Iran yang berupaya menggagalkan proses diplomatik.
Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi isu paling krusial. Iran bersikeras memiliki hak untuk mengatur lalu lintas di jalur strategis tersebut, sementara Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) menyatakan telah berhasil memfasilitasi perjalanan lebih dari 800 kapal komersial dan 380 juta barel minyak sejak awal Mei lalu, sekaligus membantah klaim kendali Iran atas jalur tersebut.
Pesan yang disampaikan oleh Gedung Putih saat ini tampak ganda; di satu sisi Presiden Trump mengancam akan mengambil tindakan tegas jika Iran terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, namun di sisi lain, pejabat AS menegaskan bahwa pintu diplomasi tetap terbuka. 'Israel' juga telah menyatakan kesiapannya untuk mendukung operasi AS jika diminta, menambah kompleksitas dinamika keamanan yang saat ini tengah diupayakan untuk diredam oleh para mediator regional. (zarahamala/arrahmah.id)
