GAZA CITY (Arrahmah.id) - Juru bicara senior Hamas, Hazem Qassem, dilaporkan selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan 'Israel' pada Kamis (9/7/2026) sore waktu setempat. Serangan udara menggunakan pesawat nirawak (drone) tersebut menargetkan kendaraan yang melintas di dekat persimpangan Abbas, Kota Gaza.
Berdasarkan keterangan sumber keamanan dan agensi pertahanan sipil Gaza, sebuah rudal ditembakkan dari drone 'Israel' langsung ke arah kendaraan yang menjadi target. Meskipun Hazem Qassem tidak berada di dalam kendaraan tersebut pada saat serangan terjadi, serangan itu menyebabkan korban jiwa di pihak pengawalnya.
Pihak rumah sakit mengonfirmasi bahwa seorang pria bernama Muhammad Mahmoud al-Fayoumi tewas dalam insiden tersebut akibat cedera parah yang dideritanya. Video yang beredar di lokasi kejadian menunjukkan kerusakan parah pada kendaraan serta kepanikan warga dan kru ambulans yang bergegas memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke fasilitas medis terdekat.
Insiden di persimpangan Abbas ini menambah panjang daftar kekerasan yang terjadi di Jalur Gaza, meski kesepakatan gencatan senjata secara resmi masih berlaku. Pada hari yang sama, otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya enam warga Palestina tewas akibat serangkaian serangan 'Israel' di berbagai wilayah.
Di wilayah selatan, drone jenis quadcopter 'Israel' dilaporkan menjatuhkan bahan peledak di dekat bundaran Bani Suheila, Khan Yunis. Sementara di Gaza bagian tengah, seorang anak bernama Muhammad Abu Khamash tewas dalam serangan terpisah di sebelah timur Deir al-Balah.
Siapa Hazem Qassem?
Hazem Qassem merupakan salah satu wajah publik paling dikenal dari gerakan Hamas. Sebagai juru bicara resmi, ia kerap menjadi penghubung utama antara kelompok tersebut dengan media massa, baik nasional maupun internasional. Qassem dikenal aktif memberikan pernyataan resmi terkait posisi Hamas mengenai negosiasi gencatan senjata, pertukaran tahanan, serta merespons berbagai pengumuman militer dan pemerintah 'Israel' sejak perang pecah pada Oktober 2023.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer 'Israel' terkait penargetan tersebut. Insiden ini terjadi di tengah stagnasi negosiasi final untuk mengakhiri perang, di mana kedua belah pihak terus terlibat dalam ketegangan militer yang memicu kekhawatiran internasional akan runtuhnya stabilitas yang rapuh di wilayah tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
