TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah kedua negara terlibat dalam pertukaran serangan militer selama dua hari berturut-turut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyatakan bahwa memorandum gencatan senjata yang disepakati bulan lalu kini telah berakhir (over), memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Teluk.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa militer AS telah menghantam sekitar 90 target militer di sepanjang garis pantai Iran pada Rabu malam (8/7/2026), termasuk fasilitas penyimpanan rudal, drone, dan situs logistik. Serangan ini merupakan kelanjutan dari operasi hari sebelumnya yang menargetkan lebih dari 80 titik strategis. Washington menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di kawasan. Target serangan mencakup Camp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta Pangkalan Angkatan Laut Juffair dan Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Selain itu, sepuluh rudal balistik dilaporkan ditembakkan ke Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania, sementara antena satelit di pangkalan Qatar juga terkena dampak. Yordania mengonfirmasi telah mencegat delapan rudal tersebut tanpa menyebabkan korban jiwa.
Serangan AS telah meluas ke berbagai sektor infrastruktur di Iran. Otoritas Iran melaporkan kerusakan pada jembatan kereta api di jalur Tehran-Mashhad yang mengakibatkan penangguhan layanan transportasi, serta serangan di dekat perimeter Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Ledakan juga dilaporkan terjadi di kota-kota pelabuhan seperti Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar, yang sebagian wilayahnya mengalami pemadaman listrik.
Data Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya mengalami luka-luka dalam dua hari terakhir akibat serangan udara tersebut. Di Ahvaz, tiga orang tewas, sementara seorang petugas pemadam kebakaran dilaporkan gugur di Iranshahr.
Meskipun ketegangan militer meningkat, Presiden Trump tetap membuka pintu bagi negosiasi dan mengklaim bahwa pihak Iran telah berupaya melakukan kontak untuk membahas kesepakatan baru. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan keras bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan tindakan serupa.
Dunia internasional merespons situasi ini dengan seruan menahan diri. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, meminta semua pihak untuk melakukan "penahanan diri maksimal." Upaya diplomatik terus dilakukan oleh aktor regional, termasuk Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, yang mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan mengimplementasikan kembali nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang.
Saat ini, kedua negara dinilai berada dalam jalan buntu (deadlock) mengenai kendali atas Selat Hormuz. Bagi Iran, kendali atas jalur maritim tersebut dianggap sebagai posisi tawar utama dalam negosiasi, sementara AS menegaskan bahwa kebebasan navigasi di sana tidak dapat diganggu gugat. (zarahamala/arrahmah.id)
