GAZA (Arrahmah.id) – Sebuah kisah mengharukan datang dari Jalur Gaza. Setelah selama tiga tahun diyakini telah gugur, tahanan Palestina Adham Al-Banna akhirnya kembali ke pelukan keluarga dan tunangannya dalam keadaan hidup setelah dibebaskan dari penjara "Israel".
Kepulangannya mengakhiri penantian panjang yang dipenuhi kesedihan, sekaligus mengungkap fakta bahwa selama ini ia ditahan secara rahasia tanpa kejelasan nasib.
Yang paling menyentuh adalah perjuangan sang tunangan yang tidak pernah percaya bahwa Adham telah meninggal. Ketika sebagian besar keluarga telah menerima kabar kematiannya, bahkan sempat menggelar takziah untuk Adham bersama tiga saudaranya, sang tunangan justru memilih tetap mencari kepastian.
Demi mengetahui keberadaan calon suaminya, ia menjual seluruh perhiasan emas miliknya untuk membayar jasa pengacara agar menelusuri keberadaan Adham di penjara-penjara "Israel". Pengorbanan tersebut, bersama upaya tanpa henti dari keluarga, akhirnya membuahkan hasil.
Kembali dari "kematian"
Jurnalis Gaza, Osama Al-Kahlout, membagikan dokumentasi momen pertama kepulangan Adham melalui media sosial. Dalam video tersebut terlihat suasana haru ketika Adham memeluk ibunya, saudara-saudaranya, dan tunangannya.
Al-Kahlout menggambarkan peristiwa itu sebagai "kembali dari kematian menuju kehidupan".
Menurutnya, keluarga telah benar-benar yakin bahwa Adham telah syahid. Namun secara mengejutkan ia muncul sebagai salah satu dari 17 tahanan Palestina yang dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis setelah dibebaskan.
Suasana duka yang selama bertahun-tahun menyelimuti keluarga pun berubah menjadi tangisan kebahagiaan dan pelukan penuh haru.
Simbol penderitaan ribuan keluarga Gaza
Kisah Adham mendapat perhatian luas di media sosial. Banyak warganet menyebutnya sebagai sebuah mukjizat kemanusiaan sekaligus secercah harapan bagi ribuan keluarga Palestina yang hingga kini belum mengetahui nasib anggota keluarganya.
Aktivis Palestina Muhammad Ad-Dahdouh menyebut kisah tersebut sebagai pengingat agar keluarga para korban yang hilang tetap bersabar dan tidak kehilangan harapan.
Sementara itu, Muhammad Haniyah menilai kisah Adham mencerminkan penderitaan ribuan keluarga Gaza yang masih hidup dalam ketidakpastian, tidak mengetahui apakah anggota keluarganya telah syahid, ditahan, atau masih dinyatakan hilang.
Ribuan warga Gaza masih hilang
Krisis orang hilang di Gaza masih menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar akibat agresi "Israel".
Menurut estimasi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat sekitar 8.000 hingga 11.000 orang yang masih dinyatakan hilang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Angka tersebut sejalan dengan data Kantor Media Pemerintah Gaza.
Sementara itu, Biro Statistik Palestina memperkirakan masih ada ribuan korban lain yang tertimbun reruntuhan bangunan dan belum berhasil dievakuasi.
Laporan Euro-Med Human Rights Monitor bahkan menyebut lebih dari 13.000 orang masih berada di bawah puing-puing bangunan atau di kuburan massal. Adapun organisasi Save the Children memperkirakan terdapat 17.000 hingga 21.000 anak yang masih berstatus hilang.
Terbatasnya kemampuan pencarian, hancurnya infrastruktur, serta sulitnya proses identifikasi jenazah membuat banyak keluarga terus hidup dalam ketidakpastian.
Di sisi lain, berbagai laporan organisasi hak asasi manusia juga menyebut masih banyak warga Palestina yang mengalami penghilangan paksa di penjara-penjara "Israel" tanpa informasi resmi mengenai kondisi maupun keberadaan mereka.
Kasus Adham Al-Banna menjadi salah satu contoh nyata bagaimana seorang tahanan Palestina dapat bertahun-tahun dianggap telah meninggal, sebelum akhirnya kembali hidup ke tengah keluarganya.
(Samirmusa/arrahmah.id)

