Memuat...

Asy Syaraa: Lebanon Tak Boleh Terjebak antara Perang Saudara dan 'Israel'

Hanoum
Senin, 22 Juni 2026 / 7 Muharam 1448 04:37
Asy Syaraa: Lebanon Tak Boleh Terjebak antara Perang Saudara dan 'Israel'
Ahmad Asy Syaraa. [Foto: Sana]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa menyerukan ketenangan di Lebanon dan memperingatkan agar negara itu tidak terus terjebak dalam pilihan antara perang saudara atau konflik berkepanjangan dengan 'Israel'.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara 'Israel' dan milisi Syiah Hizbullah serta berbagai upaya internasional untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh di kawasan.

Menurut Asy Syaraa, seperti dilansir SANA (21/6/2026), meskipun Damaskus memiliki persoalan mendasar dengan Hizbullah, Suriah tidak menginginkan seluruh Lebanon menjadi korban konflik yang terus meluas. Pernyataan itu muncul ketika bentrokan sporadis antara 'Israel' dan Hizbullah masih terjadi meskipun terdapat berbagai inisiatif diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat dan negara-negara regional.

Dalam pernyataannya, Asy Syaraa menegaskan bahwa masa depan Lebanon tidak boleh ditentukan oleh siklus peperangan yang berkepanjangan.

“Kami memiliki masalah yang mendalam dengan Hizbullah, tetapi kami tidak ingin seluruh Lebanon hancur. Lebanon tidak bisa terus terjebak antara pilihan perang saudara dan perang dengan 'Israel'. Komunitas Syiah di Lebanon membutuhkan ketenangan, bukan ketakutan dan konfrontasi yang lebih besar,” kata Asy Syaraa sebagaimana dikutip YNet.

Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap hati-hati pemerintahan Suriah terhadap konflik di negara tetangganya. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Asy Syaraa telah membantah laporan yang menyebut Damaskus berencana melakukan intervensi militer di Lebanon. Ia menegaskan bahwa prioritas Suriah adalah membantu menghentikan perang, bukan memperluasnya atau ikut terlibat secara langsung.

Komentar Asy Syaraa juga muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan pemimpin Suriah tersebut mengenai kemungkinan menghadapi Hizbullah. Namun, Damaskus menolak gagasan keterlibatan militer langsung karena khawatir dapat memperburuk ketegangan sektarian dan menimbulkan dampak politik yang luas di dunia Arab.

Situasi di Lebanon sendiri masih berada dalam kondisi yang rapuh. Meski sejumlah kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan dalam beberapa pekan terakhir, serangan udara Israel dan aksi balasan Hizbullah masih terus terjadi di beberapa wilayah perbatasan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meningkat dan menyeret Lebanon ke dalam perang yang lebih besar. (hanoum/arrahmah.id)