MIAMI (Arrahmah.id) -- Putra sulung Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu, dievakuasi secara mendesak dari Amerika Serikat ke 'Israel' setelah badan keamanan dalam negeri 'Israel', Shin Bet, menerima informasi mengenai ancaman serius terhadap keselamatannya. Yair yang saat itu berada di wilayah Miami, Florida, dipulangkan bersama tim pengamannya setelah dilakukan penilaian keamanan.
Shin Bet mengonfirmasi pada Sabtu (29/8/2026) bahwa terdapat ancaman signifikan yang dapat membahayakan Yair. Keputusan untuk mengevakuasinya diambil setelah penilaian situasi keamanan dan dilakukan secara segera. Namun, Shin Bet tidak mengungkapkan secara rinci bentuk ancaman tersebut maupun pihak yang berada di baliknya.
“Memang terdapat ancaman signifikan untuk membahayakan Yair Netanyahu. Mengingat hal tersebut, setelah dilakukan penilaian situasi, diputuskan untuk segera mengevakuasinya bersama tim keamanannya dan membawanya kembali ke Israel,” kata Shin Bet dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan The Times of Israel (29/8).
Yair diketahui telah tinggal selama beberapa tahun di kawasan Miami. Menurut laporan The Times of Israel, untuk menjalankan operasi pemulangan tersebut, sejumlah personel Shin Bet bahkan dipindahkan dari New York ke Miami. Saat itu, para personel tersebut sebelumnya ditugaskan mengawal Presiden 'Israel' Isaac Herzog yang sedang melakukan kunjungan di Amerika Serikat.
Kepulangan mendadak Yair terjadi beberapa hari setelah Benjamin Netanyahu mengungkap bahwa Iran disebut telah berupaya membunuh salah satu putranya.
Dalam wawancara melalui telepon dengan Channel 14, Netanyahu mengatakan bahwa salah satu anaknya telah menjadi sasaran Iran. Namun, saat itu ia tidak menyebut apakah putra yang dimaksud adalah Yair atau putranya yang lain, Avner.
“Iran menargetkan salah satu putra saya. Iran mencoba membunuh—mencoba membunuh salah satu putra saya,” kata Benjamin Netanyahu dalam wawancara tersebut.
Laporan mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap Yair sebelumnya muncul dari media Amerika Serikat, Newsmax. Laporan itu menyebut badan intelijen 'Israel' telah menemukan dugaan rencana Iran untuk membunuh Yair ketika ia berada di Florida pada Desember 2025. Intelijen 'Israel' kemudian disebut memberi informasi kepada otoritas Amerika Serikat mengenai dugaan ancaman tersebut.
Meski demikian, Shin Bet belum menyatakan bahwa Iran merupakan pihak yang berada di balik ancaman terbaru terhadap Yair. NDTV juga menegaskan bahwa badan keamanan 'Israel' hanya mengonfirmasi adanya ancaman signifikan, tanpa menyebut pelaku ataupun sumber ancaman tersebut.
Yair, yang dikenal sebagai aktivis sayap kanan dan podcaster, selama ini aktif menyuarakan pandangan politiknya melalui media sosial. Tinggalnya di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir juga sempat menjadi sorotan di 'Israel', terutama setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 ketika ratusan ribu warga Israel dipanggil untuk menjalani dinas cadangan militer. (hanoum/arrahmah.id)
