MOGADISHU (Arrahmah.id) -- Pasukan Turki dan Somalia berhasil membebaskan kapal kargo MV LUTUF yang dibajak perompak di lepas pantai Somalia setelah operasi selama 10 hari. Pemerintah Somalia menyebut operasi yang berlangsung di perairan wilayah Puntland itu menewaskan 14 perompak dan menghancurkan empat kapal yang digunakan kelompok pembajak.
Dilansir Al Jazeera (30/8/2026), MV LUTUF dibajak pada 17 Agustus 2026 di wilayah Nugaal, Puntland, ketika sedang berlayar menuju Dar es Salaam, Tanzania. Kapal tersebut dilaporkan sebelumnya berangkat dari Turki dan mengangkut awak dari beberapa negara.
Menurut Kementerian Pertahanan Somalia, operasi tersebut dilakukan melalui tekanan militer berkelanjutan terhadap kelompok perompak.
“Selama operasi selama 10 hari, empat kapal yang digunakan para perompak dihancurkan dan 14 perompak tewas,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Somalia sebagaimana dikutip Deutsche Welle.
Kementerian tersebut mengatakan tekanan dari pasukan gabungan akhirnya membuat perompak yang tersisa meninggalkan kapal. Setelah para penyerang mundur, pasukan mengambil alih MV LUTUF dan memastikan kapal dapat kembali berlayar.
Pemerintah Somalia menyebut operasi itu merupakan bagian dari kerja sama pertahanan antara Somalia dan Turki yang antara lain bertujuan memperkuat keamanan maritim, melindungi garis pantai Somalia dan memberantas pembajakan.
Seorang tetua masyarakat lokal, Abdullahi Warsame, dari komunitas Jiifle di Distrik Godob Jiiraan, Nugaal, membenarkan kepada Associated Press bahwa kapal dan awaknya telah dibebaskan. Namun, pemerintah Somalia belum memberikan keterangan terperinci mengenai kondisi masing-masing awak ataupun kemungkinan korban di antara mereka selama operasi berlangsung.
Pembebasan MV LUTUF terjadi ketika ancaman pembajakan di sekitar Somalia kembali meningkat. Menurut laporan Hürriyet Daily News yang mengutip data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sedikitnya 15 serangan terhadap kapal dilaporkan terjadi di lepas pantai Somalia sepanjang 2026, menjadikannya tingkat tertinggi sejak 2013. Sedikitnya lima kapal kargo juga disebut telah disandera dalam gelombang pembajakan terbaru.
Kondisi tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Tanduk Afrika, Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Somalia sebelumnya dikenal sebagai salah satu pusat pembajakan laut paling aktif di dunia, terutama pada akhir 2000-an dan awal 2010-an. Aktivitas tersebut kemudian menurun tajam setelah negara-negara internasional mengerahkan kapal perang, memperketat pengamanan kapal dagang dan menerapkan langkah perlindungan terhadap awak kapal.
Keterlibatan Turki dalam operasi tersebut juga menunjukkan semakin eratnya hubungan pertahanan Ankara dan Mogadishu. Operasi pembebasan MV LUTUF dilakukan dalam kerangka kerja sama pertahanan kedua negara. Turki selama beberapa tahun terakhir meningkatkan keterlibatannya di Somalia, termasuk dalam bidang keamanan, pelatihan militer dan perlindungan kepentingan maritim. (hanoum/arrahmah.id)
