Memuat...

Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai, Saatnya Mengembalikan Esensi Pendidikan

Oleh Hidayati SundariPendidik dan Pegiat Literasi
Senin, 13 Juli 2026 / 28 Muharam 1448 14:45
Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai, Saatnya Mengembalikan Esensi Pendidikan
Ilustrasi siswa memasuki tahun ajaran baru. (Foto: Dok. Freepik)

Setiap awal tahun ajaran baru, sekolah kembali ramai dengan berbagai aktivitas yang selalu disertai harapan dan semangat baru. Peserta didik memasuki ruang kelas dengan pengalaman baru, guru kembali mengemban amanah untuk mendidik, dan orang tua menaruh harapan besar terhadap masa depan anak-anaknya. Namun, di balik optimisme tersebut, ada satu pertanyaan yang patut menjadi bahan refleksi bersama: apakah pembelajaran saat ini masih dimaknai sebagai proses membentuk manusia seutuhnya, atau sekadar berorientasi pada pencapaian nilai semata?

Realitas di lapangan masih menunjukkan bahwa nilai masih menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan. Tidak sedikit peserta didik yang belajar hanya ketika menghadapi ujian demi memperoleh nilai yang tinggi, bukan untuk memahami dan menguasai ilmu. Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh sering kali hanya bertahan dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketika informasi dan kecerdasan buatan (AI) dapat diakses dengan mudah, tantangan pendidikan pun semakin kompleks. Kemudahan memperoleh jawaban sering kali tidak diiringi dengan kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, maupun membangun pemahaman yang utuh. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pendidikan berisiko melahirkan peserta didik yang mampu menjawab soal, tetapi belum tentu mampu menjawab persoalan kehidupan.

Fenomena ini tentu bukan sepenuhnya menjadi kesalahan peserta didik. Budaya yang masih menjadikan nilai sebagai tolok ukur keberhasilan, tuntutan lingkungan, hingga ekspektasi sebagian orang tua tanpa disadari ikut membentuk cara pandang bahwa prestasi akademik adalah tujuan utama pendidikan. Akibatnya, hasil belajar sering kali lebih dihargai daripada prosesnya, sementara pembentukan karakter belum memperoleh perhatian yang seimbang.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Beliau menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor atau prestasi akademik, tetapi juga dari lahirnya pribadi yang berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Sebagai seorang pendidik, saya meyakini bahwa sudah saatnya pendidikan kembali pada esensinya. Dalam proses pembelajaran, saya melihat tidak sedikit peserta didik yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu dan potensi yang besar. Namun, tekanan untuk memperoleh nilai yang tinggi sering kali membuat mereka lebih berorientasi pada hasil daripada proses belajar. Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan peserta didik yang mampu mengerjakan soal ujian, tetapi juga pribadi yang mampu berpikir kritis, berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Dalam perspektif Islam, tujuan tersebut memiliki landasan yang kuat. Allah Swt. berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādilah: 11). Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan ilmu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, tetapi juga oleh keimanan serta bagaimana ilmu tersebut diaplikasikan dalam kehidupan.

Mengembalikan esensi pendidikan bukan berarti mengabaikan prestasi akademik. Nilai tetap penting sebagai salah satu indikator capaian belajar, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Sekolah perlu menciptakan pembelajaran yang mendorong peserta didik berpikir kritis, guru menjadi teladan dalam integritas, dan orang tua menghargai proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya.

Namun, mengembalikan esensi pendidikan tidak mungkin menjadi tanggung jawab sekolah semata. Diperlukan sinergi antara peserta didik yang memiliki kemauan untuk terus belajar, guru yang mendidik dengan keteladanan, orang tua yang memberikan pendampingan di rumah, serta pemerintah yang menghadirkan kebijakan pendidikan yang berpihak pada kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter. Ketika seluruh elemen berjalan seiring, pendidikan tidak lagi sekadar mengejar capaian akademik, tetapi benar-benar menjadi proses memanusiakan manusia.

Pada akhirnya, pendidikan yang sejati tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar meraih prestasi duniawi, melainkan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, solusi terbaik untuk mengembalikan esensi pendidikan adalah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasinya. Ketika ilmu dipelajari karena Allah, diamalkan dengan penuh tanggung jawab, dan melahirkan akhlak yang mulia, di situlah pendidikan akan benar-benar melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga bertakwa, berintegritas, serta membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Editor: Hanin Mazaya