Memuat...

Dokter dan Putranya Gugur Dirudal Drone 'Israel' Saat Isi Air di Atap Rumah

Zarah Amala
Selasa, 16 Juni 2026 / 1 Muharam 1448 10:30
Dokter dan Putranya Gugur Dirudal Drone 'Israel' Saat Isi Air di Atap Rumah
dr. Muhammad Al-Habil, dan putranya Musa di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza (Musab Al-Sharif - X)

GAZA (Arrahmah.id) - Sumber medis Palestina mengonfirmasi gugurnya seorang dokter beserta putra kecilnya setelah menjadi sasaran serangan rudal yang dilepaskan oleh pesawat tanpa awak militer 'Israel' di wilayah utara Jalur Gaza pada Senin (15/6/2026) siang. Insiden mematikan ini menambah panjang daftar pelanggaran nyata terhadap kesepakatan penghentian permusuhan yang masih terus membayang-bayangi warga sipil di daerah kantong tersebut.

Laporan jurnalistik di lapangan mengungkapkan bahwa korban jiwa diidentifikasi sebagai dr. Muhammad Al-Habil dan putranya yang masih anak-anak, Musa Al-Habil. Keduanya dihantam rudal presisi saat sedang duduk di atap rumah mereka untuk melakukan aktivitas domestik sederhana, yaitu mengisi tangki persediaan air keluarga di kawasan Abu Iskandar, lingkungan Sheikh Radwan, utara Jalur Gaza. Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan jenazah Musa kecil dan ayahnya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.

Pihak otoritas rumah sakit di Gaza melaporkan kepada Al Jazeera bahwa situasi keamanan terus memburuk sejak Senin pagi. Sedikitnya 5 warga Palestina dinyatakan gugur akibat berondongan tembakan dan serangan udara pasukan Israel hanya dalam kurun waktu setengah hari. Di antara para korban tewas yang dievakuasi, terdapat dua orang anak-anak dan seorang wanita.

Tragedi ini memicu kemarahan masif di media sosial. Akun seperti Tamer Qadih dan Wael mengecam kematian tragis dr. Muhammad dan Musa, seraya mempertanyakan kapan "pembunuhan gratis" di Gaza ini akan berakhir di tengah proses negosiasi politik yang berjalan lamban tanpa hasil konkret di lapangan.

"Gaza terus meneteskan darah di setiap detiknya," tulis aktivis kemanusiaan Muhammad Al-Jubour dalam sebuah pernyataan yang menggambarkan kedalaman nestapa warga lokal.

Kritik sosial yang lebih tajam dilontarkan oleh tokoh publik Ahmad Al-Qari. Ia menyayangkan bagaimana pemandangan pembunuhan berulang di Gaza mulai dianggap sebagai angin lalu oleh dunia. Al-Qari secara berani membandingkan situasi di Gaza dengan dinamika di Lebanon.

Ia menyoroti bahwa dalam kasus Lebanon, ada kekuatan eksternal seperti Iran yang memasang badan secara militer guna membela dan menghentikan kehancuran total di ibu kota Beirut. Sebaliknya, Jalur Gaza terisolasi tanpa ada kekuatan nyata yang mampu membela warga sipilnya dari genosida. Al-Qari mengutuk keras segala bentuk normalisasi hubungan diplomatik dengan apa yang ia sebut sebagai terorisme Zionis atau menerimanya sebagai realitas yang lumrah.

Pembunuhan terhadap dr. Muhammad Al-Habil saat sedang mengurus pasokan air bersih bagi keluarganya menjadi simbol rapuhnya jaminan keamanan bagi warga Gaza. Hal ini membuktikan bahwa garis demarkasi dan perjanjian damai internasional belum sepenuhnya mampu menghentikan laju operasional militer Israel di wilayah pendudukan. (zarahamala/arrahmah.id)