WASHINGTON (Arrahmah.id) - Jaringan berita ekonomi asal Amerika Serikat, Bloomberg, mengeklaim telah berhasil mendapatkan salinan naskah draf Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran yang dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang. Dokumen kemitraan strategis ini memuat poin-poin revolusioner, termasuk penghentian perang secara instan di semua front pertempuran Timur Tengah serta pemberian izin bagi Teheran untuk tetap mempertahankan program nuklir domestiknya saat ini.
Publikasi dokumen mentah ini pada Selasa (16/6) langsung memicu perdebatan politik dan polarisasi tajam di dalam negeri AS. Banyak pihak mempertanyakan apakah kesepakatan kerangka kerja ini berisi konsesi yang terlalu menguntungkan sepihak bagi Iran.
Meskipun Presiden Donald Trump mengumumkan telah menandatangani MoU tersebut secara elektronik pada Senin (15/6), masih belum dipastikan apakah teks yang dirilis Bloomberg ini merupakan versi final yang diadopsi 100 persen. Guna meredam spekulasi, Trump berjanji akan membuka dokumen tersebut kepada publik dalam dua hari ke depan, membacakannya di depan kamera, serta mengirimkannya ke Kongres AS untuk ditinjau.
Poin-Poin Utama Dokumen Bocoran Bloomberg
Berdasarkan naskah draf yang dipublikasikan oleh Bloomberg, berikut adalah 16 poin krusial yang menjadi fondasi kesepakatan transisi AS-Iran:
1. Koridor Keamanan dan Penghentian Perang
-
Teheran, Washington, beserta seluruh sekutu regional mereka menyatakan penghentian perang secara seketika dan final di semua front pertempuran.
-
Seluruh pihak berkomitmen untuk tidak meluncurkan tindakan bermusuhan apa pun dan menahan diri dari segala bentuk ancaman militer.
-
Kedua negara sepakat untuk mempertahankan status quo militer saat ini hingga tercapainya Perjanjian Final.
2. Batas Waktu Negosiasi dan Hukum Internasional
-
Washington dan Teheran berkomitmen penuh untuk merumuskan dan mencapai perjanjian damai final dalam jangka waktu maksimal 60 hari (dapat diperpanjang).
-
Perjanjian Final yang nantinya disepakati oleh kedua belah pihak akan diadopsi dan disahkan melalui ketetapan sebuah resolusi yang mengikat dari Dewan Keamanan PBB.
-
Negosiasi draf final akan dimulai secara resmi setelah kedua negara menerima jaminan keamanan atas implementasi sejumlah poin di fase awal.
3. Konsesi Ekonomi dan Pencairan Aset oleh Amerika Serikat
-
AS berkomitmen untuk mencabut seketika blokade maritim terhadap pelabuhan Iran begitu MoU ditandatangani secara resmi.
-
Washington berjanji untuk memberikan pengecualian sanksi terhadap sektor ekspor minyak mentah Iran beserta seluruh layanan perbankan yang terikat dengannya.
-
Pemerintah AS berkomitmen penuh untuk mencairkan seluruh dana ekonomi dan aset-aset keuangan Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
-
Washington berkomitmen, lewat kerja sama dengan mitra regionalnya, untuk membantu rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran.
-
AS berkomitmen menghapus sanksi ekonomi secara permanen terhadap Iran berdasarkan lini masa yang akan disepakati dalam Perjanjian Final.
4. Keamanan Maritim dan Penarikan Pasukan Militer
-
Iran berkomitmen untuk memulihkan kembali arus navigasi kapal dagang internasional di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, disesuaikan dengan kebutuhan teknis pembersihan rintangan (ranjau).
-
Amerika Serikat berkomitmen untuk menarik mundur seluruh pasukan militernya dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal penandatanganan Perjanjian Final.
5. Klausul Ketentuan Nuklir
-
Iran menegaskan kembali komitmen mutlaknya bahwa mereka tidak akan pernah memproduksi senjata nuklir.
-
Teheran diizinkan untuk mempertahankan program nuklir mereka saat ini tanpa adanya penerapan sanksi ekonomi baru dari AS maupun penambahan pasukan militer Amerika di kawasan.
-
Kedua belah pihak sepakat untuk menunda dan membahas nasib material uranium yang telah diperkaya serta isu-isu nuklir sensitif lainnya secara khusus di dalam meja perundingan Perjanjian Final.
Para pengamat hubungan internasional menilai bahwa jika poin-poin di dalam draf ini terimplementasi tanpa ada pelanggaran di lapangan, maka arsitektur keamanan di Timur Tengah akan mengalami pergeseran geopolitik paling radikal dalam tiga dekade terakhir. Keberhasilan draf ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintahan Donald Trump untuk meloloskan dokumen tersebut di tingkat Kongres AS yang diprediksi akan mendapat perlawanan sengit dari faksi pro-'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
