BEIRUT (Arrahmah.id) --- Pemimpin nilisi Syiah Hizbullah, Naim Qassem, membantah tuduhan keterlibatan dalam rencana pembunuhan seorang rabbi Yahudi di Damaskus serta menegaskan tidak pernah mengirim pasukan ke Suriah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Ahad (12/4/2026) sebagai respons atas tuduhan Kementerian Dalam Negeri Suriah yang sebelumnya mengaitkan Hizbullah dengan sel yang diduga merencanakan serangan bom.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Asharq al Awsat (12/4), Hizbullah secara tegas menolak seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Kelompok itu juga menegaskan bahwa mereka tidak memiliki aktivitas maupun kehadiran militer di wilayah Suriah saat ini.
“Kami tidak memiliki aktivitas, hubungan, atau keterkaitan dengan pihak mana pun di Suriah, dan tidak memiliki kehadiran di wilayah Suriah,” kata Naim Qassem, dikutip dari Enab Baladi (12/4).
Sebelumnya, aparat keamanan Suriah mengumumkan telah menggagalkan rencana serangan di kawasan Bab Touma, Damaskus, dengan menangkap lima orang yang diduga bagian dari sel tersebut. Otoritas menyebut target serangan adalah seorang figur religius, yang oleh sejumlah laporan media internasional diidentifikasi sebagai rabbi Yahudi.
Menurut hasil penyelidikan awal, pihak Suriah mengklaim sel tersebut memiliki hubungan dengan Hizbullah dan telah menerima pelatihan militer, termasuk dalam penggunaan bahan peledak. Namun, Hizbullah menolak klaim tersebut dan menyebut tudingan itu sebagai upaya yang tidak berdasar serta berpotensi memicu ketegangan regional.
Lebih lanjut, Hizbullah juga menekankan bahwa mereka tidak mengirim pasukan ke Suriah dalam konteks situasi saat ini, berbeda dengan keterlibatan mereka pada masa konflik sebelumnya. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi terbaru kelompok tersebut terkait dinamika keamanan di kawasan.
Kelompok itu juga meminta otoritas Suriah untuk melakukan verifikasi yang lebih mendalam sebelum menyampaikan tuduhan kepada publik.
“Kami meminta pihak berwenang untuk memastikan kebenaran sebelum melontarkan tuduhan tanpa bukti,” tambah Naim Qassem dalam pernyataannya.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Suriah, di mana berbagai operasi penangkapan terhadap sel bersenjata terus dilakukan. Pengamat menilai perbedaan klaim antara Suriah dan Hizbullah mencerminkan kompleksitas situasi keamanan dan hubungan antar aktor di kawasan Timur Tengah yang masih fluktuatif. (hanoum/arrahmah.id)
