Memuat...

Gagal Total di Islamabad: 3 Skenario Mengerikan Masa Depan Konflik AS–Iran

Samir Musa
Ahad, 12 April 2026 / 24 Syawal 1447 18:48
Gagal Total di Islamabad: 3 Skenario Mengerikan Masa Depan Konflik AS–Iran
JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat “Air Force Two” setelah pertemuan dengan perwakilan Pakistan dan Iran di Islamabad (AFP).

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Putaran terbaru perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah lebih dari 20 jam pembahasan intensif. Kegagalan ini membuka babak baru ketidakpastian, dengan opsi antara eskalasi konflik atau ketenangan rapuh di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah media Barat seperti The New York Times, Washington Post, dan The Telegraph menilai kegagalan ini bukan hal mengejutkan, melainkan akibat jurang perbedaan yang sangat dalam antara kedua pihak, terutama terkait program nuklir Iran dan arsitektur keamanan kawasan.

Vance: Tidak Ada Terobosan

Perundingan tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Usai pertemuan, ia mengakui tidak ada kemajuan berarti.

“Tidak ada situasi di mana Iran bersedia menerima syarat kami… kami sudah cukup fleksibel, tetapi tidak ada kemajuan,” ujarnya.

Ketegangan utama tetap berpusat pada desakan Washington—yang didukung Presiden Donald Trump—agar Iran menghentikan total program nuklirnya, sementara Teheran bersikeras mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan uranium.

Titik Konflik: Nuklir hingga Hormuz

Selain isu utama terkait program nuklir Iran, pembicaraan juga mencakup sejumlah isu sensitif lain, seperti:

  • Status keamanan Selat Hormuz
  • Pencabutan sanksi ekonomi
  • Pembebasan aset Iran yang dibekukan
  • Kompensasi konflik masa lalu
  • Gencatan senjata di Lebanon

Menurut laporan media, Washington bahkan mengajukan proposal “take it or leave it” yang kemudian ditolak oleh Iran.

3 Skenario Masa Depan

1. Lanjutan Perundingan di Bawah Tekanan

Penarikan delegasi AS bisa menjadi taktik untuk memaksa Iran melunak. Namun, risiko terbesarnya adalah konflik yang berlarut tanpa kemajuan berarti.

2. Eskalasi Militer

Skenario ini mencakup kemungkinan operasi militer terbatas atau perang skala lebih luas, terutama di kawasan Selat Hormuz. Dampaknya berpotensi mengguncang pasar energi global dan meningkatkan inflasi dunia.

3. Pengakhiran Konflik Tanpa Kesepakatan

Presiden AS dapat memilih mengakhiri operasi tanpa kesepakatan resmi. Namun langkah ini dinilai hanya akan membekukan konflik tanpa menyelesaikan isu utama, khususnya program nuklir Iran.

Penutup

Meski dialog tingkat tinggi ini disebut sebagai salah satu komunikasi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir antara Washington dan Teheran, tidak ada hasil konkret yang dicapai.

Masa depan hubungan kedua negara kini berada di persimpangan: antara negosiasi panjang, eskalasi berbahaya, atau kompromi rapuh yang tidak menyelesaikan akar masalah.

(Samirmusa/arrahmah.id)