Memuat...

Ini Sam Fahd Abu Haikal, Bayi 7 Bulan yang Tewas Ditembak di Tepi Barat

Hanoum
Ahad, 7 Juni 2026 / 22 Zulhijah 1447 04:13
Ini Sam Fahd Abu Haikal, Bayi 7 Bulan yang Tewas Ditembak di Tepi Barat
Fahd Abu Haikal memperlihatkan foto putranya yang berusia tujuh bulan, Sam, yang tewas pada hari Jumat ketika tentara Israel menembaki mobil mereka. [Foto: Mahmoud Illean/AP]

HEBRON (Arrahmah.id) -- Nama Sam Fahd Abu Haikal menjadi simbol terbaru tragedi yang menimpa warga sipil Palestina di Tepi Barat setelah bayi berusia tujuh bulan itu tewas akibat tembakan tentara 'Israel' di Kota Hebron, Jumat (5/6/2026). Sam, yang sedang berada dalam pelukan ibunya di dalam mobil keluarga, meninggal dunia setelah peluru menembus kendaraan yang mereka tumpangi.

Dilansir The Guardian (6/6), insiden tersebut memicu kecaman internasional dan kembali menyoroti meningkatnya korban sipil dalam konflik yang terus berlangsung di wilayah pendudukan 'Israel'.

Sam Fahd Abu Haikal lahir pada November 2025 dan genap berusia tujuh bulan tepat pada hari ketika ia kehilangan nyawanya. Ia merupakan putra dari Fahd Abu Haikal, seorang dosen di Bethlehem University, dan istrinya yang saat ini masih menjalani perawatan akibat luka tembak serius. Keluarga tersebut dikenal sebagai keluarga sipil biasa yang tinggal di wilayah Hebron dan tidak memiliki keterlibatan dalam aktivitas bersenjata.

Menurut keterangan keluarga, peristiwa itu terjadi di kawasan Tel Rumeida, Hebron, ketika mereka sedang berkendara bersama. Selain Sam dan kedua orang tuanya, di dalam mobil juga terdapat kakak Sam yang berusia 11 tahun serta neneknya, Feryal Abu Haikal.

Saat tentara 'Israel' memberi isyarat agar kendaraan berhenti, Fahd Abu Haikal mengaku langsung menghentikan mobilnya. Namun, beberapa saat kemudian terdengar tembakan yang menghantam kendaraan tersebut.

Ayah Sam, Fahd Abu Haikal, menggambarkan detik-detik yang mengubah hidup keluarganya. Dalam keterangannya kepada media, ia mengatakan, "Saya menghentikan mobil sepenuhnya dan mengangkat tangan di atas kemudi. Setelah itu mereka langsung menembaki kendaraan kami." Pernyataan tersebut menjadi dasar bantahan keluarga terhadap versi militer 'Israel' yang menyebut kendaraan itu dianggap bergerak ke arah pasukan.

Fahd juga menjelaskan bahwa peluru yang mengenai dirinya kemudian menghantam Sam yang berada di pelukan ibunya di kursi belakang. Menurutnya, kondisi saat itu masih terang sehingga tentara dapat melihat dengan jelas bahwa yang berada di dalam kendaraan adalah sebuah keluarga dengan anak-anak kecil.

Sementara itu, nenek Sam, Feryal Abu Haikal, yang turut berada di dalam mobil, menyatakan bahwa kendaraan keluarga sudah berhenti dan tidak menimbulkan ancaman apa pun. Kesaksiannya memperkuat klaim keluarga bahwa mereka merupakan warga sipil yang sedang melakukan perjalanan biasa ketika insiden terjadi.

Pihak militer 'Israel' menyatakan bahwa seorang prajurit melepaskan tembakan setelah mengira kendaraan tersebut melaju ke arah pasukan. Namun, militer mengakui bahwa korban yang terkena tembakan merupakan warga sipil dan menyatakan insiden itu sedang ditinjau lebih lanjut. Tentara 'Israel' juga menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban yang tidak terlibat dalam pertempuran.

Pemakaman Sam berlangsung di Hebron pada Sabtu (6/6) dan dihadiri kerabat serta warga setempat. Jenazah bayi tersebut dibungkus bendera Palestina sebelum dimakamkan. Bagi banyak warga Palestina, Sam bukan hanya seorang bayi berusia tujuh bulan, tetapi juga menjadi simbol penderitaan anak-anak yang terjebak dalam konflik berkepanjangan di Tepi Barat.

Kasus Sam terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat sejak pecahnya perang Gaza. Data yang dikutip Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak konflik meluas, termasuk sedikitnya 240 anak-anak. Kematian Sam menambah daftar panjang korban anak dalam konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (hanoum/arrahmah.id)