BEIRUT (Arrahmah.id) -- Militer 'Israel' melancarkan serangan udara terhadap markas yang disebut sebagai pusat komando kelompok Syiah Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Minggu (7/6). Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik 'Israel'-Hizbullah dan mengancam upaya gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Amerika Serikat di kawasan.
Menurut pernyataan bersama Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz, seperti dilansir Reuters (7/6/2026), sasaran serangan adalah fasilitas yang mereka sebut sebagai "markas teroris"Hizbullah di kawasan Dahiyeh, wilayah selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis utama kelompok tersebut. Pemerintah 'Israel' menyatakan operasi dilakukan sebagai respons atas serangan yang sebelumnya dilancarkan terhadap wilayah 'Israel'.
Ledakan besar dilaporkan mengguncang sejumlah bagian Dahiyeh, memicu kepanikan warga dan mengirimkan kepulan asap tebal ke langit Beirut. Otoritas Lebanon segera mengerahkan tim penyelamat dan petugas medis ke lokasi serangan untuk mengevakuasi korban serta menilai tingkat kerusakan.
Dalam pernyataannya, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa 'Israel' akan terus menyerang target yang dianggap mengancam keamanan negaranya. Netanyahu mengatakan, "Kami akan terus bertindak terhadap siapa pun yang menyerang warga 'Israel'." Pernyataan tersebut menegaskan sikap pemerintah 'Israel' yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militernya terhadap Hizbullah.
Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah upaya diplomatik internasional berusaha menurunkan intensitas konflik di perbatasan 'Israel'-Lebanon. Sebelumnya, 'Israel' dan Lebanon sempat menyepakati pengaturan gencatan senjata terbatas yang mencakup penghentian serangan terhadap Beirut dan wilayah pinggirannya. Namun kesepakatan itu terus diuji oleh serangan roket dan operasi militer yang masih berlangsung di kedua sisi perbatasan.
Pemerintah Lebanon mengecam serangan tersebut dan menilai tindakan 'Israel' sebagai pelanggaran terhadap upaya deeskalasi yang sedang berjalan. Sejumlah pejabat Lebanon memperingatkan bahwa serangan ke Beirut dapat memperluas konflik dan mempersulit proses negosiasi yang tengah dimediasi Washington.
Di sisi lain, Hizbullah belum memberikan rincian lengkap mengenai kerusakan atau korban akibat serangan tersebut. Namun kelompok yang didukung Iran itu sebelumnya menegaskan tidak akan menghentikan perlawanan selama 'Israel' masih melancarkan operasi militer di Lebanon dan wilayah Palestina.
Eskalasi di Beirut juga memicu reaksi dari Iran. Beberapa jam setelah serangan terjadi, Iran meluncurkan rudal ke arah 'Israel' utara sebagai bentuk balasan atas serangan terhadap sekutunya di Lebanon. Militer 'Israel' mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara dan tidak menimbulkan kerusakan besar. (hanoum/arrahmah.id)
