Memuat...

'Israel' Murka, Menteri Turki Serukan Pembebasan Yerusalem

Hanoum
Rabu, 10 Juni 2026 / 25 Zulhijah 1447 05:17
'Israel' Murka, Menteri Turki Serukan Pembebasan Yerusalem
Menteri Dalam Negeri Mustafa Çiftçi berbicara di acara tersebut, Çorum, pusat Türkiye, 6 Juni 2026. (Foto AA)

YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Ketegangan diplomatik antara 'Israel' dan Turki kembali memanas setelah Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, menyatakan harapannya agar Yerusalem suatu hari “dibebaskan” dan kembali berada di bawah kendali Turki. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah 'Israel' yang menuduh Ankara mengobarkan sentimen berbahaya dan mempertanyakan komitmennya terhadap stabilitas kawasan.

Kontroversi bermula saat Ali Yerlikaya menyampaikan pidato dalam sebuah acara publik di Turki yang membahas konflik Gaza dan situasi Palestina. Dalam pidatonya, seperti dilansir Daily Sabah (9/6/2026), Yerlikaya menyatakan dukungan terhadap perjuangan Palestina dan menyebut Yerusalem sebagai kota yang suatu saat akan dibebaskan. Pernyataan itu segera menyebar luas di media sosial dan media internasional, memicu kecaman dari pejabat 'Israel'. Menurut laporan media Turki dan 'Israel', pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat konflik yang masih berlangsung di Gaza dan wilayah Palestina lainnya.

Ali Yerlikaya mengatakan, “Insya Allah, Yerusalem akan dibebaskan dan dikembalikan ke tangan yang berhak menjaganya.” Ia juga menegaskan bahwa rakyat Turki akan terus mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menjaga perhatian terhadap perkembangan di Yerusalem. Pernyataan tersebut kemudian dikutip luas oleh media Turki dan 'Israel'.

Kementerian Luar Negeri 'Israel 'merespons dengan keras. Pemerintah 'Israel' menilai komentar Yerlikaya sebagai bentuk hasutan yang tidak dapat diterima serta bertentangan dengan prinsip hubungan antarnegara yang saling menghormati kedaulatan. Pejabat 'Israel' juga menegaskan bahwa Yerusalem adalah ibu kota 'Israel' dan tidak dapat dipisahkan dari negara tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri 'Israel' Oren Marmorstein  mengatakan,  “Kami menolak pernyataan provokatif yang menyerukan pengambilalihan Yerusalem. Kota ini adalah ibu kota Negara 'Israel' dan akan tetap demikian.”  Pernyataan itu dipublikasikan melalui saluran resmi pemerintah 'Israel' beberapa jam setelah pidato Yerlikaya menjadi sorotan publik.

Perselisihan terbaru ini menambah daftar panjang ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv. Dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, secara konsisten mengkritik kebijakan 'Israel' terhadap Palestina, terutama terkait operasi militer di Gaza dan status Yerusalem Timur. Sebaliknya, 'Israel' menuduh Turki semakin menggunakan isu Palestina untuk kepentingan politik regional dan domestik.

Daily Sabah melaporkan bahwa Yerlikaya tidak secara langsung menyerukan tindakan militer atau langkah konkret terhadap 'Israel'. Pernyataannya lebih berupa harapan politik dan simbolik yang berkaitan dengan dukungan Ankara terhadap Palestina. Namun, pemerintah 'Israel' menganggap retorika semacam itu berpotensi memperburuk situasi yang sudah sensitif di kawasan.

Pernyataan Yerlikaya juga muncul ketika hubungan Turki dan 'Israel' sedang mengalami pasang surut. Meskipun kedua negara masih mempertahankan hubungan diplomatik formal, perang di Gaza telah menyebabkan meningkatnya ketegangan politik, saling kritik antarpejabat, dan memburuknya hubungan publik antara kedua negara.

Hingga Selasa (10/6), belum ada tanda-tanda bahwa polemik ini akan berkembang menjadi krisis diplomatik yang lebih besar. Namun, pertukaran pernyataan keras antara Ankara dan Tel Aviv menunjukkan bahwa isu Yerusalem tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam politik Timur Tengah dan berpotensi terus memicu ketegangan di antara negara-negara kawasan. (hanoum/arrahmah.id)