Memuat...

"Israel Raya" dan Perang Proksi: Penulis Peringatkan Ancaman Perang Regional yang Akan Menyeret Semua Pihak

Oleh Fahim As-SuraniPenulis di Al Jazeera Arabic
Rabu, 5 Agustus 2026 / 22 Safar 1448 16:11
"Israel Raya" dan Perang Proksi: Penulis Peringatkan Ancaman Perang Regional yang Akan Menyeret Semua Pihak
Penulis memperingatkan bahwa aliansi antara Washington dan Tel Aviv mendorong kawasan menuju eskalasi konflik yang lebih luas dengan Iran. (AFP)

Seorang penulis, Jeffrey Silverman, menilai bahwa serangan udara saja tidak pernah mampu memenangkan sebuah perang, dan kampanye udara yang saat ini berlangsung terhadap Iran pun bukanlah pengecualian.

Dalam artikelnya yang dimuat di majalah Rusia New Eastern Outlook, Silverman mengatakan bahwa Amerika Serikat telah menjebak dirinya sendiri dalam pusaran perang-perang proksi. Setiap eskalasi semakin mempersempit ruang manuver, hingga "perang yang tidak diinginkan siapa pun" berubah menjadi kenyataan yang sulit dihindari.

Ia menegaskan bahwa, bertentangan dengan upaya pemerintah AS dan media arus utama untuk membentuk opini publik, tidak ada perang yang pernah dimenangkan hanya melalui pemboman udara. Seberapa besar pun kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan udara, tetap dibutuhkan pasukan darat untuk menguasai wilayah.

Dilema Invasi Darat

Menurut Silverman, kini semakin jelas—bahkan bagi para pendukung fanatik Presiden Donald Trump—bahwa Amerika hanya memiliki dua pilihan: menghentikan serangan udara terhadap Iran atau meningkatkannya menjadi invasi darat. Pertanyaannya, dengan pasukan siapa dan melalui jalur mana?

Ia menyebut salah satu teori yang berkembang, yakni Washington akan memanfaatkan pasukan Kurdi untuk melancarkan invasi melalui Irak, sementara pasukan Amerika bergerak dari kawasan Teluk. Silverman mengaku semakin meyakini kemungkinan ini setelah Trump pernah berkata, "Kami punya pihak lain yang akan menyerang atas nama kami."

Menurutnya, Timur Tengah kini memasuki fase yang sangat berbahaya, ketika upaya pencegahan konflik (deterrence) justru berjalan beriringan dengan eskalasi. Ia menggambarkan perang proksi sebagai cara "pengecut" untuk memicu perang sambil berpura-pura bahwa api konflik bukan berasal dari mereka.

Ia juga menilai serangan-serangan terbaru Amerika kemungkinan merupakan bagian dari upaya "mempersiapkan medan perang" di sepanjang kawasan Teluk sebelum kemungkinan operasi darat dilakukan.

Permainan Pasar Energi

Silverman memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat menghancurkan fasilitas minyak dan kilang, bukan hanya di Iran tetapi juga di berbagai negara di kawasan. Hal ini berpotensi mengurangi pasokan energi yang dapat dikirim melalui jalur-jalur strategis.

Ia mengklaim bahwa cadangan minyak dunia, termasuk Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat, terus menurun. Menurutnya, kondisi sektor pengilangan bahkan lebih buruk dibandingkan produksi minyak mentah, sehingga harga bahan bakar bisa melonjak drastis.

Silverman juga berpendapat bahwa Trump kini berada pada titik di mana ia merasa perlu kembali membuka ruang negosiasi. Menurutnya, Trump akan terus melanjutkan serangan hingga dampak ekonominya mencapai puncak, kemudian berhenti sejenak agar pasar kembali pulih, sebelum mengulangi pola yang sama.

Ia bahkan menuduh Trump memanfaatkan perang dan ancaman perang sebagai alat untuk memengaruhi pasar serta membalas dukungan para penyandang dana kampanyenya, yang menurutnya berasal dari lobi Zionis.

Ilusi Deeskalasi

Untuk beberapa saat, Washington tampak meyakini bahwa Timur Tengah kembali memasuki pola yang sudah dikenal: saling membalas serangan, kemudian berhenti, lalu kembali ke meja perundingan.

Keputusan Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir untuk menangguhkan serangan langsung terhadap Iran dipresentasikan sebagai peluang bagi diplomasi, seolah tekanan militer telah menciptakan posisi tawar yang cukup untuk menguji kesiapan Teheran bernegosiasi.

Namun, menurut Silverman, peluang tersebut kemungkinan sudah tertutup sejak 28 Juli, ketika Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan AS bersama Arab Saudi melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap apa yang mereka sebut sebagai "lokasi logistik dan persenjataan teroris" yang digunakan kelompok-kelompok bersenjata pendukung Iran di Irak timur.

Ia menilai dampak serangan itu jauh melampaui wilayah Irak. Kelompok-kelompok bersenjata di Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman kini ikut menanggung konsekuensi dari konflik yang melibatkan Iran. Amerika, menurutnya, memilih menyerang kelompok-kelompok tersebut demi memperoleh keuntungan militer tanpa harus berhadapan langsung dengan Iran, yang ia nilai memiliki kekuatan militer konvensional yang sebanding dengan Amerika serta keunggulan bertempur di wilayahnya sendiri.

Silverman menambahkan bahwa pesan-pesan terbaru dari Washington menunjukkan Amerika kini menganggap rantai komando antara Teheran dan para sekutunya di kawasan begitu erat, sehingga perbedaan antara "proksi" dan "aktor utama" sudah tidak lagi memiliki makna strategis.

Pelajaran dari Sejarah

Secara historis, Silverman mengatakan bahwa perang-perang proksi yang berkepanjangan hampir selalu berakhir dengan hasil yang berlawanan dari tujuan awal.

Setiap rudal yang dicegat, setiap serangan drone, dan setiap aksi balasan militer semakin mempersempit ruang politik untuk mencapai penyelesaian damai, sekaligus memperluas cakupan konflik.

Meski Washington maupun Teheran tampaknya tidak menginginkan perang besar, sejarah tidak memberikan banyak alasan untuk optimistis.

Ia mengingatkan bahwa Perang Dunia I tidak meletus karena negara-negara Eropa menginginkan perang berskala benua, melainkan akibat ikatan aliansi, dorongan balas dendam, dan kesalahan perhitungan yang akhirnya mengalahkan pertimbangan politik.

Menurutnya, Timur Tengah saat ini memiliki banyak kesamaan dengan kondisi tersebut: banyak aktor negara maupun non-negara, medan konflik yang saling berkaitan, rantai komando yang tidak jelas, serta waktu pengambilan keputusan yang semakin sempit.

Karena itu, ancaman strategis terbesar bukanlah eskalasi yang disengaja, melainkan eskalasi yang terus terakumulasi sedikit demi sedikit.

Senjata dan Bursa

Silverman menilai pasar energi sudah mencerminkan kekhawatiran tersebut. Harga minyak meningkat tajam karena investor mulai memperhitungkan risiko meluasnya konflik ke kawasan Teluk dan ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa perang regional hampir tidak pernah benar-benar tetap bersifat regional dalam jangka panjang.

Menurutnya, diplomasi bukan hanya gagal, tetapi sejak awal memang tidak pernah menjadi pilihan utama, setidaknya bagi Amerika Serikat dan Israel.

Padahal diplomasi membutuhkan sesuatu yang kini semakin langka dalam krisis ini, yakni waktu.

Ia menilai Timur Tengah telah memasuki fase berbahaya ketika kebijakan pencegahan dan eskalasi berlangsung secara bersamaan. Washington meyakini bahwa respons militer yang lebih keras akan memulihkan daya tangkal (deterrence).

Ilusi "Israel Raya"

Di sisi lain, Silverman menilai Teheran tampaknya percaya bahwa serangan-serangan proksi yang dilakukan secara terukur dapat memberikan kerugian kepada lawan tanpa memicu perang besar. Namun, menurutnya, kedua asumsi tersebut tidak mungkin benar selamanya.

Ia menambahkan bahwa pertumpahan darah demi mewujudkan ilusi "Israel Raya" atau demi siklus manipulasi pasar yang dilakukan Washington tidak akan membuat perang menjadi lebih bersih. Sebaliknya, hal itu justru membuat konflik semakin kotor, semakin panjang, dan semakin berisiko berubah menjadi bencana regional yang tidak diinginkan siapa pun.

Menurutnya, pencegahan dan eskalasi tidak dapat berjalan berdampingan tanpa batas waktu. Setiap serangan "presisi" terhadap kelompok proksi, setiap serangan udara gabungan Amerika–Arab Saudi yang disebut sebagai "pertahanan diri", serta setiap rudal atau drone Iran yang melintasi perbatasan, semakin mempersempit peluang bagi semua pihak untuk mundur dari konflik.

Pada akhirnya, kata Silverman, kelompok-kelompok proksi akan berubah menjadi aktor utama, kemudian para aktor utama pun terseret langsung ke dalam peperangan. Akibatnya, "perang yang tidak diinginkan siapa pun" berubah menjadi perang yang melibatkan semua pihak.

Sebagai penutup, Silverman menilai Presiden Donald Trump telah terjebak dalam perangkap yang ia ciptakan sendiri. Ia menggambarkan Trump sebagai sosok yang semakin dikuasai amarah dan keinginan membalas dendam, kehilangan arah strategi, serta tidak lagi mau mendengarkan suara-suara yang rasional.

Meski demikian, ia memperkirakan invasi darat tidak mungkin dilakukan sebelum September paling cepat, mengingat suhu yang sangat tinggi dan terbatasnya ketersediaan air di kawasan.

Sumber: Pers Rusia

(Samirmusa/arrahmah.id)