DAMASKUS (Arrahmah.id) - Menyusul transformasi politik Suriah, keamanan perbatasan muncul sebagai salah satu tema sentral dalam menata ulang peta keamanan kawasan dan menghapus warisan rezim yang telah digulingkan—rezim yang sebelumnya membiarkan berkembangnya jaringan penyelundupan terorganisir dan kejahatan lintas batas.
Dampak perubahan di Suriah melampaui lingkup domestik dan secara langsung memengaruhi negara-negara tetangga. Pemulihan otoritas negara atas kendali dan keamanan perbatasan telah menjadi faktor kunci dalam meningkatkan stabilitas kawasan.
Presiden Ahmad Asy Syaraa menegaskan poin ini dalam sebuah wawancara baru-baru ini di program Al Jazeera. Ia menyatakan bahwa penggulingan rezim lama merupakan langkah yang diperlukan, tidak hanya bagi Suriah sendiri tetapi juga demi stabilitas seluruh kawasan.
Perbatasan Suriah Beralih dari Krisis menuju Stabilitas
Di bawah rezim yang telah digulingkan, perbatasan Suriah menjadi jalur bagi perdagangan narkoba dan senjata secara terorganisir, yang diperparah oleh lemahnya pengawasan serta keterlibatan aparat keamanan. Hal ini menciptakan ketidakstabilan baik di Suriah maupun di negara-negara tetangganya.
Mantan Direktur Anti-Narkotika Yordania, Letnan Jenderal Tayel al-Majali, mengatakan kepada SANA bahwa Yordania sangat terdampak selama periode tersebut, di mana para penyelundup menggunakan senjata standar militer dan pesawat nirawak (drone). Penyelidikan mengungkap bahwa Divisi Keempat dari angkatan darat rezim lama memfasilitasi masuknya kiriman-kiriman tersebut hingga ke perbatasan Yordania.
Al-Majali mengapresiasi langkah-langkah yang diambil Suriah pasca-pembebasan sejak 8 Desember 2024, khususnya pertemuan keamanan gabungan dan pertukaran intelijen yang telah berhasil menekan operasi penyelundupan.
Ia menjelaskan bahwa Yordania dan Suriah saling bertukar informasi terkait keamanan kedua negara, didasari oleh keyakinan bersama bahwa keamanan Yordania saling terkait dengan keamanan Suriah, dan bahwa kerja sama gabungan merupakan cara terbaik untuk menghadapi jaringan perdagangan narkoba serta kejahatan terorganisir.
Keamanan Preventif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Perbatasan
Perubahan dalam pengelolaan perbatasan merupakan salah satu aspek paling menonjol dari transformasi pendekatan keamanan Suriah. Tujuannya kini tidak lagi sebatas melindungi perbatasan setelah ancaman terjadi, melainkan berlandaskan konsep keamanan preventif yang mengutamakan antisipasi, pemantauan, dan penggagalan ancaman sebelum mencapai wilayah dalam Suriah atau negara-negara tetangga.
Pada 5 Maret 2026, Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa unit-unit tentara Suriah telah dikerahkan di sepanjang perbatasan Lebanon dan Irak sebagai bagian dari langkah kedaulatan untuk memperketat kendali dan meningkatkan keamanan. Unit Penjaga Perbatasan, yang didukung oleh batalion pengintai, kini memantau titik-titik perlintasan, mengatur pergerakan, serta melacak aktivitas mencurigakan yang berpotensi menimbulkan ancaman sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Perubahan ini mencerminkan transisi dari sekadar menangani dampak menjadi upaya mengatasi sumber bahaya, sekaligus memperkuat pengawasan, koordinasi, dan pertukaran informasi intelijen.
Penyelundupan Senjata Digagalkan: Uji Coba Kemampuan Keamanan Baru Suriah
Operasi untuk menggagalkan penyelundupan kiriman senjata canggih melintasi perbatasan Suriah-Irak pada tanggal 16 Juli menjadi contoh nyata transformasi dalam pengelolaan keamanan perbatasan.
Saat itu, Kementerian Pertahanan mengonfirmasi bahwa penyelidikan awal mengungkap rencana pengiriman tersebut untuk melintasi wilayah Suriah menuju Lebanon guna kepentingan milisi Hizbullah.
Kementerian menegaskan bahwa menjaga kedaulatan Suriah dan mencegah wilayahnya dijadikan jalur penyelundupan senjata tetap menjadi prioritas utama. Operasi ini menyoroti kemampuan aparat keamanan Suriah dalam memutus jaringan penyelundupan dan mencegah negara tersebut menjadi sarana bagi ancaman regional.
Kerja Sama Regional untuk Mengamankan Perbatasan
Peningkatan pengendalian perbatasan berjalan beriringan dengan perluasan kerja sama dengan negara-negara tetangga. Pada bulan Juni, militer Suriah dan Lebanon membahas penguatan koordinasi untuk memerangi penyelundupan dan meningkatkan keamanan perbatasan. Sebulan kemudian, pejabat pertahanan Suriah bertemu dengan komandan perbatasan Irak di Baghdad untuk memperkuat langkah bersama dalam melawan penyelundupan.
Hubungan Suriah-Yordania juga telah mengalami kemajuan signifikan. Ketua Senat Yordania, Faisal Al Fayez, baru-baru ini menggambarkan Suriah dan Yordania sebagai mitra strategis yang memiliki kepentingan keamanan dan ekonomi bersama.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menekankan bahwa keamanan kedua negara saling terkait, seraya menyoroti koordinasi ekstensif dalam memerangi penyelundupan narkoba dan senjata.
Dalam konteks ini, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, dalam kunjungan sebelumnya ke Yordania, menegaskan bahwa situasi baru di Suriah telah mengakhiri ancaman terkait penyelundupan senjata dan narkoba, serta menyatakan kesiapan Damaskus untuk menjalin kerja sama intensif dengan negara-negara tetangga dalam mengamankan perbatasan.
Suriah: Pilar Keamanan Regional
Pentingnya transformasi Suriah melampaui sekadar upaya menegaskan kembali kendali atas perbatasan dan menghadapi ancaman lintas negara. Hal ini juga mencakup pemulihan kepercayaan regional dan internasional terhadap peran baru Suriah.
Dalam konteks ini, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS Barbara Leaf menegaskan dalam pernyataan eksklusif kepada SANA bulan lalu bahwa Suriah telah berhasil memulihkan kepercayaan mitra internasional dan negara-negara tetangganya, seraya mencatat bahwa stabilitas Suriah merupakan faktor fundamental bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Perkembangan keamanan terkini menunjukkan bahwa transformasi Suriah telah mendefinisikan ulang posisinya di kawasan tersebut. Dengan kembali memegang kendali atas perbatasannya, membongkar jaringan penyelundupan, dan memperluas kerja sama dengan negara-negara tetangga, Damaskus telah beralih dari sekadar jalur ketidakstabilan menjadi mitra dalam menjaga perdamaian. (haninmazaya/arrahmah.id)
