KABUL (Arrahmah.id) - Menteri Kesehatan Masyarakat Imarah Islam Afghanistan menyebut Strategi Kesehatan Nasional Lima Tahun sebagai langkah penting menuju penyediaan layanan kesehatan yang terstandar dan merata, peningkatan mutu layanan kesehatan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pemenuhan fasilitas rumah sakit, serta penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
Saat berbicara dalam upacara peluncuran strategi tersebut, Noor Jalal Jalali menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari bantuan yang diberikan oleh organisasi internasional yang disalurkan langsung ke sektor kesehatan Afghanistan, sementara sebagian besar dana justru digunakan oleh organisasi-organisasi itu sendiri. Ia juga mengimbau para dokter Afghanistan yang tinggal di luar negeri untuk kembali dan berkontribusi dalam meningkatkan layanan kesehatan di dalam negeri, lansir Tolo News (4/8/2026).
Jalali mengatakan: "Mendukung produksi dalam negeri merupakan pilar utama lainnya dari strategi ini. Melalui penerapannya, produksi obat-obatan, vaksin, dan produk medis lainnya akan didorong, sehingga membantu mengurangi ketergantungan Afghanistan terhadap negara lain di sektor ini."
Mohammad Hassan Ghiasi, Wakil Menteri Perencanaan dan Kebijakan di Kementerian Kesehatan Masyarakat, mengatakan: "Pelaksanaan strategi ini merupakan tanggung jawab bersama seluruh instansi pemerintah terkait, dinas kesehatan masyarakat tingkat provinsi, mitra kesehatan nasional dan internasional, lembaga donor, organisasi pelaksana, sektor swasta, institusi akademik dan pendidikan, serta masyarakat luas."
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Urusan Administrasi, Abdul Salam Hanafi, menyatakan keprihatinannya atas minimnya jumlah rumah sakit di daerah-daerah terpencil. Ia menegaskan bahwa Imarah Islam mendukung Kementerian Kesehatan Masyarakat dan sedang berupaya mendirikan rumah sakit di setiap distrik.
Hanafi mengatakan: "Negara-negara Islam, negara-negara sahabat, badan-badan PBB, dan organisasi lain yang telah mendukung sektor ini dapat melanjutkan bantuan mereka, karena rakyat Afghanistan masih membutuhkan kerja sama ini."
Abdul Latif Nazari, Wakil Menteri Urusan Profesional di Kementerian Ekonomi, menekankan pentingnya perencanaan yang ilmiah dan berbasis bukti yang selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Ia mengatakan: "Perencanaan yang akurat, ilmiah, dan akademis yang didasarkan pada kebutuhan pasar tenaga kerja dapat membantu mengatasi pengangguran, sekaligus memungkinkan kita memanfaatkan sumber daya manusia sebagai aset sosial demi kemajuan, pembangunan, dan kesejahteraan negara." Dalam acara yang sama, Edwin Ceniza Salvador, Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Afghanistan, mengakui adanya kemajuan terkini di sektor kesehatan negara tersebut, namun menyatakan bahwa Afghanistan masih menghadapi berbagai tantangan besar, termasuk angka kematian ibu dan anak, malnutrisi, penyakit menular maupun tidak menular, serta masalah kesehatan jiwa.
Sembari menegaskan kembali dukungan berkelanjutan dari WHO, Salvador menekankan perlunya peran yang lebih aktif dari Kementerian Keuangan Afghanistan dalam memastikan pendanaan yang berkelanjutan bagi sektor kesehatan.
Ia menambahkan: "Pada saat yang sama, kita harus ingat bahwa strategi ini dilaksanakan di tengah menurunnya dukungan finansial dari masyarakat internasional dan mitra pembangunan. Strategi ini juga menekankan pentingnya tenaga kesehatan—baik perempuan maupun laki-laki—dalam mencapai prioritas-prioritasnya."
Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat, Strategi Kesehatan Nasional Lima Tahun tersebut mencakup tujuh komponen utama: tata kelola dan kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, pendanaan kesehatan berkelanjutan, penyediaan layanan kesehatan, pangan, obat-obatan dan produk kesehatan, sistem informasi kesehatan, serta koordinasi dengan para donor dan mitra pembangunan. (haninmazaya/arrahmah.id)
