KABUL (Arrahmah.id) - Hubungan Imarah Islam Afghanistan dengan negara-negara Asia Tengah, khususnya di sektor politik, ekonomi, perdagangan, dan transit, telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Juru bicara Imarah Islam menyatakan bahwa hubungan ini didasarkan pada semangat bertetangga yang baik, kepentingan bersama, dan pengembangan perdagangan, serta saat ini berada pada tingkat yang memuaskan.
Menanggapi masalah pengakuan terhadap Imarah Islam oleh negara-negara Asia Tengah, Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa persoalan pengakuan resmi bergantung pada kebijakan masing-masing negara. Namun, ia mencatat bahwa negara-negara tersebut terus menjalin interaksi dengan Afghanistan di tingkat resmi, dan Kabul tidak memiliki kekhawatiran terkait hal ini, lansir Tolo News (5/8/2026).
Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam, mengatakan: "Afghanistan memiliki hubungan yang baik dan bersahabat dengan negara-negara Asia Tengah. Hubungan ini dibangun di atas semangat bertetangga yang baik, kepentingan bersama, perluasan perdagangan, dan ikatan diplomatik yang kuat. Kami tidak melihat adanya celah dalam hubungan ini, dan kami terus berupaya untuk menjadikannya lebih luas dan lebih kuat. Delegasi tingkat tinggi Afghanistan telah mengunjungi negara-negara tersebut."
Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi menyatakan bahwa hubungan ekonomi, politik, dan diplomatik Afghanistan dengan negara-negara Asia Tengah saling melengkapi, seraya menambahkan bahwa perluasan kerja sama ekonomi dapat semakin memperkuat ikatan politik dan diplomatik.
Abdul Latif Nazari, Wakil Menteri Urusan Profesional di Kementerian Ekonomi, mengatakan: "Penguatan kerja sama politik dan diplomatik antara Afghanistan dan Asia Tengah juga akan memperluas hubungan ekonomi, perdagangan, dan transit. Kebijakan kami adalah meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Asia Tengah, dan kami ingin hubungan ini mencapai tingkat yang lebih tinggi."
Beberapa analis berpendapat bahwa negara-negara Asia Tengah sebaiknya mengambil langkah nyata menuju pengakuan resmi terhadap Imarah Islam.
Analis politik Abdul Sadiq Hamidzoy mengatakan: "Jika masalah pengakuan dapat diselesaikan, iklim investasi akan menjadi jauh lebih kuat. Afghanistan perlu meyakinkan negara-negara di kawasan ini, atau setidaknya negara-negara tetangganya, untuk mengakui Imarah Islam."
Mantan diplomat Aziz Maarij juga mengatakan: "Hubungan Afghanistan dengan negara-negara Asia Tengah, khususnya dalam hal ekonomi dan perdagangan, telah meluas dan terus berkembang, sehingga memberikan manfaat baik bagi Afghanistan maupun mitra-mitra regionalnya. Namun, terkait pengakuan resmi, komunitas internasional—baik negara sahabat maupun negara yang menjadi rival—masih memiliki sikap yang sama." Pernyataan ini disampaikan di tengah kunjungan sejumlah pejabat senior—termasuk wakil perdana menteri Kazakhstan dan Uzbekistan—ke Afghanistan selama satu setengah bulan terakhir, dengan perluasan kerja sama politik dan ekonomi sebagai fokus utama kunjungan mereka. (haninmazaya/arrahmah.id)
