Memuat...

Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat Whoosh Lewat PT SMF

Ameera
Rabu, 5 Agustus 2026 / 22 Safar 1448 19:23
Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat Whoosh Lewat PT SMF
Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat Whoosh Lewat PT SMF

JAKARTA (Arrahmah.id) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi mengumumkan rencana pengambilalihan kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh oleh Kementerian Keuangan melalui Badan Layanan Umum (BLU) PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Purbaya menjelaskan, skema tersebut dirancang agar pengelolaan kewajiban finansial proyek tidak langsung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dana untuk pembayaran utang nantinya akan berasal dari keuntungan yang diperoleh PT SMF, bukan dari anggaran negara.

"Jadi walaupun dikelola oleh pemerintah tidak akan membebani APBN. PT SMF kan juga punya untung juga kan, sebagian kita biarkan ke situ (pelunasan utang Whoosh). Kira-kira begitu gambaran kasarnya," ujar Purbaya saat ditemui di kantornya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Purbaya, pengambilalihan tersebut dilakukan terhadap kepemilikan 60 persen saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang merupakan bagian dari konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku operator Kereta Cepat Whoosh.

Proses pengalihan saham dari PT PSBI kepada PT SMF ditargetkan selesai pada pertengahan September 2026.

Setelah proses tersebut rampung, pemerintah akan menjadi pemegang kendali atas kepemilikan saham PSBI.

"Kan punya dia (saham PT PSBI) 60 persen, itu kasih ke kita (Kemenkeu), 40 persen masih ada yang lain, masih ada China. Konsorsium kasihkan saham punya dia ke saya. Itu punya kita semua nanti perusahaannya (PSBI)," kata Purbaya.

PT PSBI sendiri merupakan konsorsium sejumlah perusahaan BUMN yang sebelumnya terlibat dalam pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Komposisi kepemilikan PT PSBI terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebesar 51,37 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sebesar 39,12 persen, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I sebesar 1,21 persen, serta PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebesar 8,3 persen.

Pengambilalihan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya beban pembiayaan proyek KCJB.

Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diperkirakan telah mencapai sekitar USD7,2 miliar atau setara dengan Rp116 triliun.

Dari total utang tersebut, sekitar 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan tingkat bunga sekitar 3,5 persen hingga 4 persen.

Besarnya kewajiban tersebut membuat konsorsium PT KCIC harus menanggung beban pembayaran bunga yang diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun setiap tahun.

Melalui skema pengalihan saham dan pengelolaan kewajiban oleh PT SMF, pemerintah berharap keberlangsungan operasional Kereta Cepat Whoosh tetap berjalan sekaligus menjaga tekanan terhadap keuangan negara.

(ameera/arrahmah.id)