Memuat...

'Israel' Targetkan Ibu dan Bayi Palestina Sejak dalam Kandungan, Laporan PFC Ungkap Genosida Reproduksi

Zarah Amala
Jumat, 3 Juli 2026 / 18 Muharam 1448 10:16
'Israel' Targetkan Ibu dan Bayi Palestina Sejak dalam Kandungan, Laporan PFC Ungkap Genosida Reproduksi
Bayi-bayi yang baru lahir dikeluarkan dari inkubator di Rumah Sakit Al-Shifa karena kekurangan oksigen. (Foto: via Media Sosial)

GAZA (Arrahmah.id) - Palestinian Feminist Collective (PFC) merilis laporan mendalam yang menuduh 'Israel' menjalankan kampanye genosida reproduksi di Jalur Gaza. Laporan tersebut berargumen bahwa serangan militer yang berlangsung tidak hanya bertujuan untuk pembunuhan massal, tetapi secara sistematis menghancurkan kemampuan warga Palestina untuk melangsungkan kehidupan, berkeluarga, dan bereproduksi.

Menggunakan kerangka kerja keadilan reproduksi, kolektif ini mendefinisikan genosida reproduksi sebagai kebijakan dan praktik yang sengaja melemahkan kemampuan komunitas untuk mempertahankan hidup. Menurut PFC, tindakan ini mencakup pembatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air, bahan bakar, listrik, dan makanan, hingga pemusnahan sistem layanan kesehatan.

Laporan tersebut merinci komponen-komponen yang dianggap sebagai bentuk genosida reproduksi, di antaranya pengepungan total dan pemutusan akses terhadap sumber kehidupan, pemusnahan institusi medis dan penolakan sumber daya penyelamat jiwa, kelaparan massal yang disengaja, penghancuran infrastruktur pendukung kehidupan seperti rumah, lahan pertanian, dan tempat ibadah serta degradasi lingkungan yang memicu infertilitas jangka panjang.

PFC menyoroti kondisi traumatik yang dialami perempuan di Gaza. Laporan tersebut menyebutkan ribuan ibu terpaksa melahirkan di tengah pemboman tanpa akses anestesi, dengan dokter yang harus menggunakan senter ponsel untuk melakukan prosedur operasi karena ketiadaan listrik.

Lebih dari 20.000 perempuan dilaporkan melahirkan dalam kondisi genosidal. Kekurangan pangan dan air bersih yang parah telah menyebabkan banyak ibu tidak mampu memproduksi ASI, sementara trauma fisik dan psikis memicu peningkatan kasus keguguran, bayi lahir prematur, hingga prosedur histerektomi darurat yang dilakukan karena rumah sakit tidak memiliki sumber daya untuk menangani pendarahan pascapersalinan.

Dalam laporannya, PFC secara terbuka mengkritik organisasi kesehatan reproduksi internasional, terutama Planned Parenthood. Mereka menuding organisasi-organisasi tersebut gagal mengakui konteks politik yang lebih luas, seperti pendudukan militer, pengepungan selama lebih dari 16 tahun, dan kolonialisme pemukim terhadap warga Palestina. Kolektif ini menegaskan bahwa perjuangan pembebasan Palestina adalah bagian integral dari keadilan reproduksi.

Laporan tersebut diakhiri dengan desakan kepada komunitas global, tenaga kesehatan, dan gerakan feminis dunia untuk secara terbuka mengutuk serangan di Gaza. PFC menuntut organisasi kesehatan untuk mengambil sikap tegas menentang genosida reproduksi dan menyerukan gencatan senjata segera sebagai langkah mendasar untuk menghentikan penghancuran kehidupan masyarakat Palestina di Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)