Memuat...

Khutbah Jum’at: Meratapi "Perpisahan" Kita dengan Al-Qur'an

Oleh Irfan S. Awwas
Kamis, 5 Maret 2026 / 16 Ramadan 1447 15:02
Khutbah Jum’at:  Meratapi "Perpisahan" Kita dengan Al-Qur'an
Khutbah Jum’at: Meratapi "Perpisahan" Kita dengan Al-Qur'an

(Arrahmah.id) - 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, sang penerima wahyu yang dadanya menjadi wadah pertama cahaya kalamullah.

Setiap memasuki pertengahan bulan Ramadhan, memori kita dibawa kembali pada peristiwa agung: Nuzulul Qur'an. Pada malam 17 Ramadhan, Allah SWT menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW di Gua Hira. Peristiwa ini bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi peristiwa dahsyat saat langit menyapa bumi, saat Jibril AS memeluk erat Rasulullah ﷺ di Gua Hira sembari membisikkan kata "Iqra!"

Hari ini kita berada di momentum peringatan Nuzulul Qur'an. Mari kita jadikan momentum refleksi: sejauh mana Al-Qur'an telah mewarnai detak jantung dan langkah kaki kita? Masihkah Al-Qur'an itu hidup di rumah kita, atau ia hanya menjadi pajangan berdebu di sudut lemari?

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Dalam refleksi ini, kita tadabbur sebuah ayat yang seharusnya membuat hati kita bergetar karena takut kepada Allah SWT. Ada sebuah aduan yang sangat memilukan dalam Al-Qur'an. Sebuah pengaduan yang langsung dari Rasulullah ﷺ kepada Allah SWT.

Allah SWT mengabadikan pengaduan Rasulullah SAW ini dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran bagi umat Islam agar tidak meniru perilaku kaum kafir dengan meninggalkan Al-Qur'an, melainkan menjadikannya pedoman hidup. Tidak mengabaikan seruan dakwah para da’i yang mengajak pada jalan yang benar, tidak meremehkan ajakan untuk menegakkan syari’at Islam.

Perhatikan firman-Nya dalam Surah Al-Furqan ayat 30:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul Allah berkata:
"Wahai Tuhanku, kaumku benar-benar telah menjauhi aku karena aku menyampaikan Al-Qur'an ini kepada mereka."
(QS. Al-Furqan [25]: 30)

Bayangkan betapa sedihnya perasaan kita jika kelak di hari kiamat Nabi yang kita harapkan syafaatnya justru mengadu kepada Allah bahwa kita termasuk orang yang mencampakkan kitab suci-Nya. Mencampakkan bukan berarti membuangnya ke tempat sampah, melainkan kita memilikinya tetapi tidak pernah membacanya; kita membacanya tetapi tidak mau memahaminya; kita memahaminya tetapi enggan mengamalkannya.

Poin penting dari ayat ini terletak pada kata Mahjura, yang berasal dari akar kata Hajura (meninggalkan/memutuskan). Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “meninggalkan” Al-Qur'an bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi mencakup beberapa perilaku.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mahjura atau mengacuhkan Al-Qur'an memiliki beberapa tingkatan yang berbahaya:

  1. Tidak mau mendengarkannya Telinga lebih akrab dengan musik atau kebisingan dunia daripada lantunan wahyu.
  2. Tidak mengimaninya Ragu akan kebenaran isi di dalamnya.
  3. Tidak mentadabburinya Membaca hanya di lisan tanpa berusaha memahami maknanya.
  4. Tidak mengamalkannya Tahu hukumnya tetapi enggan mematuhinya.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Sejalan dengan pengaduan tersebut, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi memberikan gambaran yang sangat relevan dengan realitas hari ini. Rasulullah SAW bersabda bahwa akan datang suatu masa pada manusia, adanya fenomena yang sangat mengkhawatirkan.

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لا يَبْقَى مِنَ الإِسْلامِ إِلا اسْمُهُ ، وَلا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلا رَسْمُهُ ، مَسَاجِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ ، وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى ، عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ ، مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ ، وَفِيهِمْ تَعُودُ

“Akan datang suatu zaman pada manusia, di mana pada waktu itu tidak tinggal dari Islam kecuali namanya saja, dan tidak tinggal dari Al-Qur'an melainkan tulisannya saja. Masjid-masjid mereka pada waktu itu dibangun megah, namun kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit. Dari mulut-mulut mereka keluar fitnah, dan sungguh fitnah itu akan kembali kepada mereka.”
[HR. Al-Baihaqi]

Lihatlah sekeliling kita. Mushaf Al-Qur'an dicetak dengan tinta emas, aplikasi Al-Qur'an ada di setiap ponsel pintar kita, namun mengapa kegelisahan, kemaksiatan, dan ketidakteraturan masih merajalela? Jawabannya menyakitkan: Islam tinggal nama dan Al-Qur'an tinggal tulisan. Kita bangga berstatus Muslim, tetapi karakter kita jauh dari nilai-nilai Al-Qur'an.

Momentum 17 Ramadhan ini bukan sekadar tentang sejarah. Ini adalah tentang “kepulangan.” Pulanglah wahai jiwa yang lelah, kembalilah ke pelukan ayat-ayat-Nya. Jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik agar Al-Qur'an tidak lagi menjadi “orang asing” di rumah kita sendiri.

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Sebagai penutup, mari kita bangun motivasi baru. Al-Qur'an tidak diturunkan untuk memberatkan kita, melainkan sebagai syifa (obat) bagi hati yang risau dan jiwa yang hampa. Jangan biarkan Al-Qur'an hanya menjadi penghias dinding atau pembuka acara seremonial. Mulailah dari langkah kecil namun konsisten.

Mari kita bawa pulang tiga tekad dari masjid ini untuk memuliakan Al-Qur'an:

  1. Interaksi Harian Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membaca Al-Qur'an, meski hanya satu halaman atau satu ayat.
  2. Pahami Maknanya Mulailah membaca terjemahan atau tafsir ringkas agar Al-Qur'an dapat berbicara kepada hati kita.
  3. Jadikan Hakim Saat kita bingung menentukan pilihan hidup, kembalilah kepada standar Al-Qur'an, bukan standar manusia.

Ingatlah, siapa yang memuliakan Al-Qur'an, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Siapa yang menjauhinya, maka hidupnya akan terasa sempit meski harta melimpah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Ahlul Qur'an (keluarga Al-Qur'an) yang senantiasa membacanya, mencintainya, dan dibimbing oleh cahayanya hingga kita selamat di dunia dan akhirat.

Mari kita berdoa agar kita tidak termasuk golongan yang diadukan oleh Rasulullah ﷺ di hari kiamat nanti.

Yogyakarta, Jum’at, 17 Ramadhan 1447 H / 5 Maret 2026 M

IRFAN SURYAHARDI AWWAS

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa