TEHERAN (Arrahmah.id) - Mayor Jenderal Mohsen Rezaei menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali Washington mengubah posisinya dan menyetujui seluruh persyaratan Teheran. Syarat tersebut mencakup penghentian perang terhadap Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian konflik di Gaza dan Lebanon.
Pernyataan keras ini disampaikan oleh Rezaei, yang baru saja ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus perwakilan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, pada Selasa (11/8/2026) saat melakukan pertemuan dengan Duta Besar Cina untuk Teheran, Cong Peiwu, menurut kantor berita resmi IRNA.
Rezaei menambahkan bahwa Teheran telah menyampaikan sejumlah kondisi tambahan kepada pihak Amerika Serikat melalui perantara mediasi.
Komentar Rezaei semakin memperjelas pendudukan Teheran terkait negosiasi jalur maritim di Selat Hormuz. Menurutnya, potensi kesepakatan apa pun antara Iran dan Oman mengenai pengaturan rute pelayaran di selat tersebut harus dipandang terpisah dari isu utama mengenai apakah Selat Hormuz itu sendiri akan dibuka kembali.
Pernyataan ini sejalan dengan penjelasan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Senin lalu. Baghaei menyatakan bahwa penutupan selat merupakan respons wajar atas penggunaannya dalam serangan terhadap Iran.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada situasi dan kondisi Iran," ujar Baghaei. "Selama perang masih berlangsung, kami tidak akan mengizinkan jalur pelayaran melewati selat tersebut."
Meski Iran dan Oman terus melanjutkan diskusi bilateral terkait pengaturan lalu lintas maritim di Hormuz, Teheran menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak berkaitan langsung dengan negosiasi dengan pihak Washington.
Dalam pertemuannya dengan Dubes Cong Peiwu, Rezaei mengaitkan tuntutan pembukaan Hormuz dengan konfrontasi regional yang lebih luas. Menanggapi hal tersebut, Dubes Cong menegaskan kembali penentangan Beijing terhadap serangan militer terhadap Iran serta menyatakan dukungan China bagi penguatan hubungan antarnegara di kawasan Asia Barat dan Teluk.
Pernyataan ini menjadi sorotan penting mengingat momentum penunjukan Rezaei pekan ini sebagai sekretaris lembaga keamanan tertinggi Iran. Dalam pernyataan perdananya pasca-penunjukan, Rezaei memperingatkan bahwa Iran tengah menghadapi salah satu periode paling krusial dalam sejarah modern dan bersumpah bahwa Teheran "tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman apa pun terhadap hak dan kepentingan rakyatnya." (zarahamala/arrahmah.id)
