Memuat...

Dapat Ancaman Pembunuhan, Trump Kabur dari Turki Via Truk Katering

Hanoum
Rabu, 12 Agustus 2026 / 29 Safar 1448 04:23
Dapat Ancaman Pembunuhan, Trump Kabur dari Turki Via Truk Katering
Tangkapan layar. [Foto: BBC]

ANKARA (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan diam-diam dipindahkan dari Turki menggunakan kendaraan katering bandara sebelum menaiki pesawat militer kecil untuk meninggalkan negara tersebut, setelah pejabat intelijen AS mendeteksi ancaman pembunuhan yang dinilai kredibel dari Iran atau kelompok yang berafiliasi dengannya.

Menurut laporan The Washington Post yang dikutip Reuters (11/8/2026), ancaman tersebut tidak hanya diarahkan kepada Trump, tetapi juga terhadap pesawat yang membawanya. Karena itu, aparat keamanan AS menjalankan operasi pengelabuan dengan membuat seolah-olah Trump tetap meninggalkan Turki menggunakan pesawat Air Force One yang lama, sementara sebenarnya ia dipindahkan ke pesawat militer C-32A yang lebih kecil.

Peristiwa itu terjadi pada 8 Juli 2026 setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara. Sebelumnya, Trump tiba di Turki menggunakan Boeing 747-8 yang diberikan Qatar kepada Amerika Serikat dan tengah dipersiapkan sebagai pesawat kepresidenan.

Namun, ketika meninggalkan Turki, ia secara terbuka menaiki Air Force One versi lama sehingga wartawan dan sebagian staf Gedung Putih meyakini Trump berada di dalam pesawat tersebut.

Dalam operasi tersebut, Trump disebut dibawa menggunakan kendaraan katering melalui area bandara untuk menghindari perhatian publik. Ia kemudian dipindahkan ke pesawat militer C-32A yang terbang menuju Inggris.

Pesawat Air Force One lama tetap digunakan sebagai pengalih perhatian dan membawa wartawan serta sejumlah staf yang sebelumnya mengira Trump berada di dalamnya. Reuters melaporkan jendela pesawat bahkan ditutup selama penerbangan sebagai bagian dari langkah pengamanan.

“Kami mendeteksi ancaman yang kredibel terhadap presiden dari Iran dan kelompok proksi Iran,” kata sejumlah pejabat AS kepada CBS News mengenai alasan Trump meninggalkan Turki menggunakan pesawat lama.

CBS sebelumnya melaporkan bahwa ancaman tersebut berkaitan dengan kemungkinan serangan rudal terhadap pesawat yang membawa Trump.

Keterangan tersebut berbeda dengan penjelasan Trump saat itu. Ketika ditanya mengenai alasan menggunakan pesawat Air Force One lama, Trump tidak secara terbuka mengaitkannya dengan ancaman keamanan. Ia mengatakan penggunaan pesawat lama dilakukan untuk alasan nostalgia, sementara pesawat baru yang diberikan Qatar diterbangkan lebih dahulu ke Inggris agar personel militer AS dapat melihat dan mengunjunginya.

“Untuk masa lalu,” atau “for old time's sake”, merupakan alasan yang disampaikan Trump ketika menjelaskan keputusan menggunakan pesawat lama. Namun, laporan berikutnya dari media AS menyebut pergantian pesawat tersebut dilakukan setelah aparat keamanan menerima informasi mengenai ancaman terhadap presiden.

Keamanan pesawat baru juga menjadi perhatian dalam perjalanan tersebut. Boeing 747-8 yang diberikan Qatar baru menjalani proses modifikasi untuk kebutuhan perjalanan presiden dan belum memiliki seluruh sistem pertahanan yang terdapat pada pesawat Air Force One lama. Karena itu, menurut laporan sejumlah media AS, aparat keamanan menilai pesawat lama memberikan perlindungan yang lebih memadai dalam situasi ancaman tersebut.

Iran dan kelompok proksinya disebut menjadi sumber kekhawatiran karena pada saat itu konflik antara Washington dan Teheran sedang meningkat. Namun, hingga kini tidak ada bukti publik yang menunjukkan bahwa Iran benar-benar melancarkan serangan terhadap Trump atau pesawat yang membawanya. Informasi mengenai ancaman tersebut terutama berasal dari pejabat AS yang berbicara kepada media dengan syarat anonimitas.

Operasi tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi pemerintah AS karena sebagian wartawan dan staf Gedung Putih tidak mengetahui bahwa Trump sebenarnya telah meninggalkan pesawat yang mereka kira membawanya. Pengelabuan semacam itu merupakan bagian dari prosedur keamanan tingkat tinggi yang bertujuan membuat lokasi presiden sulit dilacak oleh pihak yang berpotensi menyerang. (hanoum/arrahmah.id)