Memuat...

Krisis Roti di Gaza Makin Parah Akibat Pembatasan Gas dan Tepung

Zarah Amala
Senin, 22 Juni 2026 / 7 Muharam 1448 14:18
Krisis Roti di Gaza Makin Parah Akibat Pembatasan Gas dan Tepung
Antrean roti mengular di Gaza di tengah pembatasan ketat yang memicu bencana kemanusiaan (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik yang sangat kritis seiring dengan semakin parahnya kelangkaan bahan pangan pokok, khususnya roti. Laporan lapangan Al Jazeera Mubasher menunjukkan pemandangan memilukan di mana ribuan warga, termasuk anak-anak dan kelompok rentan, terpaksa mengantre sejak pukul enam pagi demi mendapatkan satu paket roti yang tidak cukup untuk menghidupi keluarga mereka yang rata-rata beranggotakan 6 hingga 7 orang.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan penutupan perbatasan oleh otoritas 'Israel' yang membatasi secara ketat masuknya bahan baku utama seperti tepung, bahan bakar, dan gas memasak, serta diperumit oleh sistem distribusi digital yang dinilai tidak ramah bagi warga sipil.

Kelangkaan roti di Gaza merupakan dampak langsung dari pemotongan drastis jumlah truk logistik yang diizinkan masuk oleh pihak 'Israe'l. Program Pangan Dunia (WFP) dan lembaga kemanusiaan lainnya menghadapi hambatan besar karena pasokan hanya diizinkan melalui satu lembaga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh populasi Gaza.

Krisis pangan di Gaza diperparah oleh penurunan drastis volume logistik yang masuk akibat pembatasan ketat di perlintasan perbatasan. Jika dalam kondisi normal dibutuhkan setidaknya 600 truk bantuan umum per hari untuk memenuhi kebutuhan penduduk, saat ini otoritas 'Israel' hanya mengizinkan masuk 30 hingga 50 truk saja.

Kesenjangan serupa juga terjadi pada pasokan gas memasak yang sangat krusial bagi operasional dapur umum dan rumah tangga; dari kebutuhan 20 truk setiap harinya, pasokan yang masuk kini hanya berkisar 3 hingga 4 truk. Situasi ini semakin mencekik karena adanya kebijakan penutupan perlintasan yang rutin dilakukan setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu, sehingga distribusi logistik yang sudah sangat terbatas tersebut tidak dapat berjalan secara konsisten setiap harinya.

Selain kelangkaan fisik, penerapan sistem "Aplikasi Digital" wajib untuk mendapatkan kuota roti kini menjadi masalah baru. Banyak warga, terutama lansia dan kelompok miskin, tidak memiliki ponsel pintar (smartphone) atau tidak memiliki literasi teknologi untuk mengoperasikan aplikasi tersebut. Warga menuntut agar distribusi roti dilakukan secara langsung tanpa perantara digital yang justru memperumit akses di tengah situasi darurat dan ketiadaan pasokan listrik yang stabil.

Menurut laporan surat kabar 'Israel' Haaretz, bencana kemanusiaan ini semakin meluas seiring dengan penurunan volume bantuan yang mencapai 80 persen sejak pecahnya perang dengan Iran pada akhir Februari 2026. Data dari Pusat Koordinasi Sipil-Militer menunjukkan bahwa pada pekan pertama konflik tersebut, hanya 590 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza, berbanding terbalik dengan rata-rata prapandemi konflik yang mencapai 4.200 truk per pekan.

Akibat dari penurunan masif ini langsung dirasakan di lapangan berupa lonjakan harga pangan yang tidak terkendali, kelangkaan obat-obatan di rumah sakit, serta ratusan ribu warga yang terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat tanpa akses air bersih, listrik, maupun sanitasi yang layak. Warga Gaza kini mendesak masyarakat internasional untuk segera menghentikan keheningan mereka atas kelaparan nyata yang sedang menghancurkan populasi sipil di dalam wilayah kantong tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)