Memuat...

Mantan PM 'Israel': Netanyahu Harus Disingkirkan Dengan Tongkat dan Batu

Hanoum
Selasa, 16 Juni 2026 / 1 Muharam 1448 06:31
Mantan PM 'Israel': Netanyahu Harus Disingkirkan Dengan Tongkat dan Batu
Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak berbicara di Forum Keamanan Internasional Halifax, Sabtu, 22 November 2025. [Foto: Kelly Clark/The Canadian Press via AP File]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Mantan Perdana Menteri 'Israel', Ehud Barak, melontarkan pernyataan keras terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan mengatakan bahwa Netanyahu harus disingkirkan "dengan tongkat dan batu" apabila mencoba menggagalkan atau memanipulasi pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan politik di 'Israel' serta perdebatan mengenai arah kebijakan keamanan dan perang yang masih berlangsung di kawasan.

Dilansir KAN (14/6/2026), menurut mantan perdana menteri yang memimpin 'Israel' pada periode 1999-2001 tersebut, Netanyahu berpotensi menggunakan eskalasi militer sebagai cara untuk mengganggu proses demokrasi dan mempertahankan posisinya di tengah menurunnya dukungan publik terhadap pemerintahannya.

"Saya khawatir Netanyahu akan mencoba menggagalkan pemilu, dan itu sangat mudah baginya untuk dilakukan. Jika ia mencobanya, kami tidak punya pilihan selain menyingkirkannya dengan tongkat dan batu," kata Ehud Barak dalam wawancara tersebut.

Barak menuding Netanyahu dapat memicu konfrontasi baru di Lebanon yang kemudian memancing respons dari kelompok Hizbullah maupun Iran.

Menurutnya, situasi darurat keamanan akibat konflik yang lebih luas berpotensi digunakan sebagai alasan untuk menunda atau mengacaukan pelaksanaan pemilu yang diperkirakan digelar pada September atau Oktober 2026, sebelum masa jabatan parlemen 'Israel' berakhir pada Oktober mendatang.

Mantan kepala staf militer 'Israel' itu juga menuduh Netanyahu berkepentingan mempertahankan kondisi perang berkepanjangan karena berakhirnya konflik dapat mempercepat proses hukum yang sedang dihadapinya.

Barak menilai berbagai keputusan politik dan militer pemerintah dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak didorong oleh kepentingan politik domestik dibandingkan kebutuhan strategis negara.

Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari kalangan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu. Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, Boaz Bismuth, mengecam komentar Barak dan menuduhnya melegitimasi kekerasan terhadap perdana menteri yang sedang menjabat. Ia bahkan menyerukan penyelidikan hukum atas ucapan mantan perdana menteri tersebut.

Selain mengkritik Netanyahu terkait pemilu, Barak juga menyerang kebijakan pemerintah mengenai kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia menyebut hasil perundingan tersebut sebagai konsekuensi dari kegagalan strategi Netanyahu dalam memengaruhi kebijakan Washington. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Barak juga berulang kali mengkritik pendekatan pemerintah terhadap perang di Gaza, Lebanon, dan Iran. (hanoum/arrahmah.id)