TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz, menuai gelombang kecaman setelah menyatakan bahwa kehancuran yang terjadi di Jalur Gaza memberinya “perasaan baik”. Pernyataan kontroversial itu disampaikan saat ia mengunjungi wilayah Gaza utara dan meninjau operasi militer 'Israel' yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Komentar tersebut memicu reaksi dari kelompok hak asasi manusia, pengamat politik, dan sejumlah media internasional di tengah terus berlanjutnya perang di Gaza.
Pernyataan itu muncul ketika Katz diwawancarai media 'Israel' saat meninjau kawasan yang mengalami kerusakan luas akibat operasi militer.
Ketika ditanya mengenai perasaannya melihat kondisi Gaza yang porak-poranda, Katz menjawab, “Perasaan yang baik, bukan?” Ia kemudian menyebut kehancuran tersebut sebagai hasil dari kebijakan yang telah dirancang secara matang oleh pemerintah dan militer 'Israel'.
Dalam kesempatan yang sama, seperti dilansir Anadolu Agency (14/7/2026), Katz juga mengumumkan rencana pembentukan tiga pos militer permanen baru di Gaza utara.
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan memperkuat kontrol keamanan 'Israel' dan mencegah kelompok Hamas kembali membangun kekuatan di wilayah tersebut.
Pemerintah 'Israel' berulang kali menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan perang, termasuk melemahkan Hamas dan membebaskan sandera 'Israel', tercapai.
“Kehancuran yang Anda lihat adalah hasil dari kebijakan yang dipikirkan dengan matang. Ini memberikan perasaan yang baik,” kata Israel Katz.
Sejumlah organisasi kemanusiaan menilai komentar tersebut tidak sensitif terhadap penderitaan warga sipil Palestina yang terdampak perang.
Menurut berbagai laporan internasional, sebagian besar wilayah Gaza mengalami kerusakan berat, termasuk kawasan permukiman, fasilitas kesehatan, sekolah, serta infrastruktur publik lainnya. Badan-badan PBB juga terus memperingatkan memburuknya situasi kemanusiaan dan meningkatnya kebutuhan bantuan bagi jutaan warga yang terdampak konflik.
Anadolu Agency melaporkan bahwa pernyataan Katz semakin memperdalam kritik terhadap kebijakan 'Israel' di Gaza. Kelompok-kelompok pro-Palestina menilai ucapan tersebut mencerminkan dukungan terhadap strategi militer yang menyebabkan kehancuran luas di wilayah kantong Palestina itu.
Sementara itu, pejabat 'Israel' mempertahankan posisi bahwa operasi militer dilakukan sebagai respons terhadap ancaman keamanan dan serangan Hamas terhadap 'Israel'.
Hingga kini, perang Gaza masih berlangsung tanpa adanya kesepakatan damai permanen. Upaya mediasi yang melibatkan Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata dan pertukaran sandera, namun negosiasi belum menghasilkan terobosan signifikan.
Di tengah situasi tersebut, pernyataan Katz diperkirakan akan semakin menambah tekanan diplomatik terhadap pemerintah 'Israel' di forum internasional. (hanoum/arrahmah.id)
