WASHINGTON (Arrahmah.id) - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan tiga gelombang serangan udara yang membidik sejumlah instalasi militer di sepanjang pesisir selatan Iran pada Rabu (10/6/2026) dini hari. Operasi militer berskala besar ini digelar atas perintah langsung Presiden Donald Trump sebagai respons proporsional pasca-jatuhnya helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
Media Iran, Mahr Agency dan Tasnim, melaporkan serangkaian ledakan keras mengguncang lima titik strategis di Provinsi Hormozgan, termasuk Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Sirik, Minab, dan Jask. Menanggapi rembesan jet tempur tersebut, unit pertahanan udara Iran di wilayah selatan langsung diaktifkan secara masif untuk menghalau proyektil, sebelum ketegangan dilaporkan mulai mereda menjelang pagi hari.
Pejabat Pentagon dan otoritas keamanan Iran merilis rincian mengenai target operasional serta dampak langsung dari serangan udara tersebut. Jaringan intelijen AS mengonfirmasi bahwa armada jet tempur mereka secara khusus menghancurkan sistem pertahanan udara, instalasi radar, serta pos artileri pantai milik Iran di sekitar perimeter Selat Hormuz.
Televisi resmi Iran melaporkan serangan di wilayah Sirik menghantam dua tangki penyimpanan air bersih di area Bimani. Insiden ini mengakibatkan terputusnya pasokan air minum bagi warga lokal. Namun, otoritas setempat memastikan pelabuhan komersial di Pulau Qeshm aman dari hantaman.
Menyusul serangan udara di jalur vital logistik energi dunia tersebut, harga minyak mentah dunia langsung mengalami kenaikan tipis dan menyentuh angka 92,30 dolar AS per barel.
Insiden Apache di Selat Hormuz
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache AS pada Selasa (9/6/2026). The New York Times melaporkan helikopter tersebut jatuh di perairan Selat Hormuz setelah diduga terkena tembakan.
Dua awak pilot berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat oleh kapal nirawak (drone boat) milik Angkatan Laut AS. Presiden Trump mengonfirmasi kedua pilot dalam keadaan sehat tanpa luka parah. Meskipun Teheran melalui Wakil Menteri Luar Negerinya sempat membantah terlibat dan menyebut insiden itu mungkin kecelakaan tidak disengaja akibat tingginya tensi militer di kawasan, Washington tetap meminta pertanggungjawaban penuh dari pihak Iran.
Kendati meluncurkan serangan balasan yang kuat, pemerintahan Donald Trump menegaskan bahwa aksi militer dan koridor diplomasi adalah dua jalur terpisah yang bisa berjalan bersamaan. Trump secara khusus telah mengabarkan detail serangan ini kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
"Saya percaya pada prinsip merespons dengan kekuatan, dan itulah yang kami lakukan saat ini. Namun, kita memiliki draf kesepakatan yang sangat baik dengan Iran, dan saya percaya hal itu tidak akan berubah," ujar Trump kepada jaringan ABC.
Seorang pejabat tinggi Gedung Putih kepada Politico menambahkan bahwa Washington tidak melihat operasi militer ini sebagai pembatalan proses negosiasi. AS meyakini bahwa kesepakatan damai permanen untuk mengakhiri perang regional masih berada dalam jangkauan dan dapat diteken dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Teheran merespons agresi AS dengan nada keras. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran tidak akan membiarkan serangan terhadap kedaulatannya berlalu tanpa pembalasan. Araghchi memperingatkan bahwa Washington sedang menguji tekad dan kesabaran militer Iran di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
