SIDOARJO (Arrahmah.id) – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, KH Abdul Wahid Harun mengusulkan perubahan sistem pengelolaan penyaluran makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Usulan tersebut disampaikan setelah Ponpes Manbaul Hikam mendapat kunjungan dari staf khusus kepresidenan untuk melihat kondisi para santri pascaterjadinya dugaan keracunan makanan.
KH Abdul Wahid Harun mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi para santri. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan pelaksanaan program MBG dapat berjalan lebih aman.
"Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah pusat. Harapan kami kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Program yang sebenarnya baik jangan sampai ternoda karena kelalaian dalam proses," kata KH Abdul Wahid Harun di Ponpes Manbaul Hikam, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, pihak pondok sebelumnya juga telah berdiskusi dengan staf Wakil Presiden mengenai evaluasi pelaksanaan MBG.
Dari pembahasan tersebut muncul gagasan agar sistem penyaluran makanan di lingkungan pondok diubah sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara mandiri oleh lembaga.
Dalam konsep yang diusulkan, dana program disalurkan kepada lembaga, sedangkan proses pengadaan bahan, memasak, hingga penyajian makanan dilakukan langsung oleh pihak pondok.
"Jadi bukan lagi makanan datang dari luar. Dana disalurkan ke lembaga, kemudian pondok sendiri yang mengelola. Ini sudah kami diskusikan dengan staf Wapres dan mendapat respons positif," ujarnya.
Pertimbangkan Jeda Waktu Distribusi
KH Abdul Wahid Harun mengatakan salah satu pertimbangan utama perubahan sistem tersebut adalah persoalan waktu antara makanan dimasak hingga dikonsumsi para santri.
Dengan jumlah penerima MBG yang mencapai ribuan santri, ia menilai proses memasak di lokasi yang jauh kemudian mengirimkan makanan ke pondok dapat menimbulkan jeda waktu yang cukup panjang.
"Kalau jumlahnya 2.500 sampai 2.830 porsi, tentu kalau masak dari jauh kemudian dikirim, ada jeda waktu. Kalau kami kelola sendiri, porsinya terukur, masak langsung, konsumsi langsung. Risikonya bisa diminimalkan," jelasnya.
Menurut dia, apabila makanan dimasak dan langsung disajikan di lingkungan pondok, pengawasan terhadap kualitas dan keamanan makanan juga akan lebih mudah dilakukan.
Ia menegaskan usulan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program MBG. Pihak pondok tetap mendukung program tersebut, tetapi berharap sistem pelaksanaannya dapat disempurnakan.
"Programnya tetap kami dukung. Yang kami harapkan adalah sistemnya disempurnakan supaya lebih aman dan berkelanjutan," imbuhnya.
Libatkan Warga dan Alumni
Dalam konsep yang diusulkan, pengelolaan MBG nantinya dilakukan secara lokal dengan melibatkan warga sekitar dan alumni pondok.
Keterlibatan warga diharapkan tidak hanya membantu proses penyediaan makanan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar pesantren.
Sementara pengelolaan teknis makanan akan melibatkan para alumni Ponpes Manbaul Hikam. Dengan pola tersebut, pengasuh pondok dapat lebih fokus pada kegiatan pendidikan, pembinaan santri, serta komunikasi dengan para wali santri.
"Yang mengelola nanti alumni. Warga sekitar juga bisa diberdayakan. Jadi selain kontrol kualitas lebih dekat, masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat," terangnya.
Ia menambahkan, prinsip utama dari sistem yang diusulkan adalah pengelolaan secara lokal, jumlah porsi disesuaikan dengan kebutuhan, serta makanan dimasak dan disajikan dalam waktu sesingkat mungkin.
Santri Mulai Kembali ke Pondok
Sementara itu, proses pemulihan para santri yang sebelumnya menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit masih terus dilakukan.
KH Abdul Wahid Harun menyebut hingga Jumat (4/9/2026), masih terdapat 22 santri yang menjalani perawatan di sembilan rumah sakit.
Para santri yang masih dirawat akan diantar kembali ke pondok setelah kondisi kesehatan mereka memungkinkan. Pihak pesantren juga akan terus memantau kondisi mereka setelah kembali.
"Yang masih dirawat ada 22 santri di sembilan rumah sakit. Nanti kami antar pulang dan terus kami pantau kondisinya," katanya.
KH Abdul Wahid Harun berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak sekaligus momentum bagi Ponpes Manbaul Hikam untuk melakukan pembenahan dalam penyelenggaraan program MBG.
"Kami melihat ini sebagai ujian. Mudah-mudahan dari ujian ini pondok justru bisa lebih dikenal dan naik kelas. Yang penting kejadian seperti ini jangan sampai terulang," pungkasnya.
(ameera/arrahmah.id)
