Memuat...

Serangan "Israel" terhadap Lebanon Selatan Berlanjut Walau Ada Perjanjian Gencatan Senjata

Hanin Mazaya
Ahad, 7 Juni 2026 / 22 Zulhijah 1447 18:47
Serangan "Israel" terhadap Lebanon Selatan Berlanjut Walau Ada Perjanjian Gencatan Senjata
(Foto: Tolo News)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Meskipun ada perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan "Israel", serangan skala besar oleh pasukan Israel di Lebanon selatan terus berlanjut.

Militer "Israel" telah mengumumkan bahwa mereka melakukan hampir 150 serangan terhadap target yang terkait dengan Hizbullah di Lebanon selatan selama dua hari terakhir.

Dalam salah satu serangan tersebut, tiga tentara Lebanon tewas. Lebanon dan para pejabatnya menggambarkan serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara, menuduh "Israel" sengaja menargetkan pasukan Lebanon dan merusak proses gencatan senjata, lansir Tolo News (7/6/2026).

Ahmad Al-Hussein, seorang saksi mata kejadian tersebut, mengatakan: “Kami berada di sini ketika serangan udara terjadi, sedang melakukan pekerjaan kami. Kami sedang membagikan makanan kepada orang-orang dan berada di dalam restoran pada saat serangan terjadi. Sebuah fasilitas sipil—sebuah bank—menjadi sasaran, dan restoran, yang juga merupakan situs sipil, mengalami kerusakan.”

Sementara itu, Iran sekali lagi menegaskan dukungannya untuk Hizbullah Lebanon dan menyerukan penarikan "Israel" dari Lebanon selatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan: “Lebanon telah membayar harga yang mahal dalam perang ini, dan kami tidak akan pernah melupakan rakyat dan teman-teman kami di Lebanon. Akhir perang di Iran dan Lebanon saling terkait; perang akan berakhir di kedua tempat, atau akan berlanjut di kedua tempat.”

Pada saat yang sama, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Lebanon memburuk dengan cepat dan telah meningkatkan permohonan bantuan kemanusiaannya menjadi hampir $640 juta.

Imran Riza, Koordinator Kemanusiaan PBB di Lebanon, mengatakan: “Hari ini, kami meminta tambahan $331,5 juta untuk terus memberikan bantuan penyelamatan jiwa kepada 1,4 juta orang. Ini menjadikan total permohonan darurat kami hingga Agustus tahun ini menjadi $639,9 juta.”

Hal ini terjadi setelah Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pada Kamis (4/6) bahwa Lebanon dan "Israel" telah mencapai kesepakatan untuk menerapkan gencatan senjata.

Namun, "Israel" menyatakan bahwa implementasi perjanjian tersebut bergantung pada penghentian total serangan Hizbullah, serta pemenuhan beberapa syarat lainnya. (haninmazaya/arrahmah.id)