Memuat...

Tiga Tahun Genosida Gaza, 3.500 Artefak Budaya Terkubur di Bawah Puing

Zarah Amala
Selasa, 16 Juni 2026 / 1 Muharam 1448 11:25
Tiga Tahun Genosida Gaza, 3.500 Artefak Budaya Terkubur di Bawah Puing
3.500 artefak budaya di Gaza hancur oleh genosida 'Israel' (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Selama hampir tiga tahun agresi militer dan perang destruktif yang dilancarkan 'Israel' di Jalur Gaza, warisan budaya dan identitas sejarah di daerah kantong tersebut dilaporkan telah menerima hantaman paling mematikan dalam sejarah modern. Ratusan koleksi arkeologi dan artefak kuno yang tak ternilai harganya kini dinyatakan hilang, rusak parah, atau hancur menjadi debu akibat pemboman yang sistematis.

Salah satu bukti paling nyata dari tragedi ini adalah Museum Al-Qarara. Lebih dari 3.500 potongan artefak langka kini terkubur dan terjebak di bawah reruntuhan bangunan museum yang hancur total akibat serangan udara.

Nasib serupa menimpa Istana Al-Basha (Pasha's Palace), sebuah mahakarya arsitektur bersejarah yang dibangun sejak zaman Dinasti Mamluk dan telah dialihfungsikan menjadi Museum Nasional pada tahun 2010. Istana ini dilaporkan telah kehilangan sekitar 70 persen koleksi murninya akibat kehancuran total dan operasi militer masif yang melanda kawasan Kota Tua (Old City) Gaza.

Direktur Departemen Situs dan Ekskavasi di Kementerian Pariwisata dan Purbakala Gaza, Dr. Hamouda Al-Dehdar, menegaskan bahwa otoritas pendudukan 'Israel' secara sengaja menargetkan warisan budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, sejak awal perang meletus.

Situs sejarah di Gaza yang menjadi target pemboman oleh militer 'Israel' mencakup lingkungan kuno yang sarat nilai historis seperti Shuja'iyya dan Al-Tuffah kini telah rata dengan tanah. Selain kawasan permukiman tua, agresi ini juga melakukan penghancuran total yang menyasar sejumlah museum komunitas penting, termasuk Museum Istana Al-Basha, Museum Al-Qarara, dan Museum Al-Aqqad. Serangan sistematis terhadap institusi-institusi tersebut berdampak pada hilangnya bukti peradaban yang tak ternilai harganya, ditandai dengan hancurnya ratusan peninggalan arkeologi langka yang berasal dari Era Bizantium dan Romawi hingga tak tersisa.

Seorang pakar tata kelola museum wanita di Gaza mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa sebelum perang berkecamuk, Museum Istana Al-Basha merupakan pusat edukasi peradaban yang dikunjungi oleh sedikitnya 70.000 wisatawan dan pelajar setiap tahunnya. Namun, kini situs megah tersebut telah berubah menjadi tumpukan puing.

Ia menambahkan, bukti kuat bahwa 'Israel' sengaja melakukan penghapusan budaya terlihat dari linimasa penyerangan, di mana militer 'Israel' sudah mulai membom museum-museum dan situs purbakala hanya selang beberapa hari setelah perang resmi dideklarasikan tiga tahun lalu.

Tim ahli arkeologi yang terlibat dalam proyek restorasi ini sepakat bahwa penghancuran museum-museum di Gaza adalah upaya sistematis musuh untuk meruntuhkan martabat rakyat Palestina dengan cara menghapus bukti fisik sejarah keberadaan mereka di tanah tersebut.

Gerakan sipil perlindungan sejarah Palestina menghadapi tantangan luar biasa akibat kondisi lapangan yang sangat ekstrem, di mana evakuasi artefak purbakala menjadi sangat sulit dilakukan lantaran adanya perintah pengungsian paksa serta blokade militer yang begitu ketat pada hari-hari pertama perang meletus.

Di tengah situasi yang kritis tersebut, muncul sebuah bentuk inisiasi berupa gerakan akademis kolektif yang dipelopori oleh para sejarawan, arkeolog, dan mahasiswa Palestina yang bergerak bersama untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, serta merestorasi puing-puing artefak yang masih bisa diselamatkan dari bawah reruntuhan.

Langkah penyelamatan ini dilandasi oleh doktrin perjuangan yang kuat; para inisiator menegaskan bahwa aksi berisiko tinggi ini bukan sekadar urusan menyelamatkan benda mati semata, melainkan merupakan sebuah medan pertempuran eksistensial yang krusial demi menjaga dan mempertahankan identitas bangsa dari upaya pemusnahan sejarah.

Meski harus mengungsi berkali-kali dan bertaruh nyawa di bawah ancaman bom, para akademisi ini menegaskan komitmen mereka untuk membangun kembali seluruh museum yang hancur setelah perang berakhir. Upaya pengarsipan digital yang tengah berjalan saat ini dipandang sebagai garis pertahanan terakhir untuk membuktikan kepada dunia bahwa akar sejarah identitas Palestina terlalu dalam untuk bisa dikubur oleh puing-puing pengeboman 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)