Memuat...

Trump Klaim 'Israel' Takkan Bertahan Tanpa Dirinya

Hanoum
Rabu, 17 Juni 2026 / 2 Muharam 1448 04:11
Trump Klaim 'Israel' Takkan Bertahan Tanpa Dirinya
Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT G7, di Evian-les-Bains, Prancis, 16 Juni 2026. [Foto : EVELYN HOCKSTEIN/REUTERS]

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa 'Israel' tidak akan tetap berdiri tanpa dukungan dan kebijakan yang ia ambil selama menjabat. Pernyataan itu disampaikan di tengah munculnya ketegangan terbuka antara Trump dan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu terkait konflik di Lebanon, Suriah, dan implementasi kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pertemuan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, seperti dilansir Al Jazeera (16/6/2026), Trump menegaskan bahwa dukungan yang diberikannya kepada 'Israel' selama bertahun-tahun jauh melampaui presiden-presiden Amerika Serikat sebelumnya.

“Tanpa Amerika Serikat tidak akan ada 'Israel'. Tanpa saya, tidak akan ada 'Israel', karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump bahkan menambahkan bahwa 'Israel' sudah lama hancur jika dirinya tidak terlibat dalam berbagai keputusan strategis yang mendukung negara tersebut. Pernyataan itu segera menjadi sorotan karena disampaikan ketika hubungan pribadinya dengan Netanyahu disebut-sebut sedang mengalami tekanan akibat perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan Timur Tengah pascakonflik dengan Iran.

Dalam pernyataan yang sama, Trump juga mengkritik operasi militer 'Israel' di Lebanon. Ia meminta Netanyahu menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab dan berhati-hati agar tidak mengganggu upaya diplomatik yang sedang dilakukan Washington untuk menjaga stabilitas kawasan serta mengimplementasikan kesepakatan dengan Iran.

Menurut sejumlah laporan media Amerika, perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv semakin terlihat setelah Trump mendorong pendekatan diplomatik terhadap Iran dan menyarankan agar Suriah mengambil peran lebih besar dalam menghadapi Hizbullah. Sementara itu, Netanyahu tetap menegaskan bahwa 'Israel' akan mempertahankan operasi militernya di Lebanon, Gaza, dan Suriah selama dianggap diperlukan untuk menjamin keamanan nasional.

Newsweek melaporkan bahwa komentar Trump dipandang sebagai sinyal paling jelas sejauh ini mengenai keretakan hubungan antara kedua pemimpin yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki kedekatan politik. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa ia masih memiliki hubungan yang baik dengan Netanyahu, namun menginginkan 'Israel' lebih memperhatikan dampak regional dari setiap operasi militernya.

Ketegangan tersebut muncul ketika Amerika Serikat berupaya menyelesaikan perjanjian baru dengan Iran yang dijadwalkan ditandatangani dalam waktu dekat. Di sisi lain, pemerintahan Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu 'Israel', termasuk kritik dari kalangan oposisi maupun sekutu koalisinya terkait hubungan dengan Washington dan strategi keamanan regional. (hanoum/arrahmah.id)