Memuat...

23 Pos Militer 'Israel' Kepung Pengungsi, Warga Gaza Hidup dalam Ancaman Maut

Zarah Amala
Kamis, 9 Juli 2026 / 24 Muharam 1448 11:14
23 Pos Militer 'Israel' Kepung Pengungsi, Warga Gaza Hidup dalam Ancaman Maut
Menara pengawas militer 'Israel' ini menjadi tempat penembak jitu yang menargetkan warga sipil di area pengungsian secara acak dan langsung (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Kehidupan warga Palestina di Jalur Gaza kini berada di bawah bayang-bayang 23 menara pengawas militer 'Israel' yang dilengkapi dengan alat pengintai dan derek militer (crane). Laporan terbaru mengungkapkan bahwa struktur-struktur ini telah berubah fungsi dari sekadar alat pemantau menjadi platform penembak jitu yang menargetkan warga sipil di area pengungsian secara acak dan langsung.

Menurut data dari Pusat Hak Asasi Manusia Palestina, ke-23 pos militer tersebut tersebar di berbagai wilayah di Gaza. Keberadaan menara-menara ini merampas rasa aman sedikit pun bagi warga di tenda-tenda pengungsian. Selama 24 jam penuh, suara tembakan dan mortir terus menghantui penduduk, memaksa mereka hidup dalam kondisi yang digambarkan sebagai perjalanan kematian yang tertunda setiap harinya.

Kesaksian warga di lapangan menggambarkan kengerian ini dengan nyata. Ghassan, seorang ayah, menuturkan pengalaman traumatis saat melihat anaknya tewas ditembak tepat di depan matanya sendiri ketika mereka sedang berada di dekat tenda. Sementara itu, Huda Maqat, seorang warga lainnya, mengungkapkan ketakutan mendalam setelah peluru menembus tenda yang ia huni, mengancam nyawa anaknya yang masih kecil, di tengah duka mendalam karena kehilangan tiga anggota keluarga lainnya akibat serangan sebelumnya.

Secara medis, tindakan ini tidak lagi dikategorikan sebagai upaya pencegahan militer biasa, melainkan penghancuran sistematis terhadap populasi manusia. Direktur Layanan Ambulans dan Darurat, Fares Afana, menegaskan bahwa pola luka yang ditemukan pada para korban sangat presisi dan mematikan.

"Sebagian besar luka tembak yang kami tangani terfokus pada bagian atas tubuh, seperti kepala, leher, dan dada," ujar Afana. Penargetan pada area vital ini menyebabkan tingginya angka kematian di tempat serta banyaknya korban yang mengalami kelumpuhan permanen.

Sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025, pasukan 'Israel' dilaporkan terus memperluas jangkauan mereka di dalam Jalur Gaza. Berdasarkan pernyataan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu pada akhir Juni lalu, militer 'Israel' kini menguasai sekitar 70% wilayah Gaza.

Sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 173.000 lainnya terluka. Selain korban jiwa, sekitar 90% infrastruktur sipil di wilayah tersebut telah hancur total, menyisakan jutaan warga dalam keterbatasan akses untuk bertahan hidup di tengah kepungan militer yang terus diperketat. (zarahamala/arrahmah.id)