Memuat...

Eskalasi AS-Iran: 'Israel' Siaga Penuh, Ancaman Konfrontasi Dinilai Tak Terelakkan

Zarah Amala
Kamis, 9 Juli 2026 / 24 Muharam 1448 10:30
Eskalasi AS-Iran: 'Israel' Siaga Penuh, Ancaman Konfrontasi Dinilai Tak Terelakkan
Bola api menerangi langit di atas Tel Aviv menyusul serangan rudal Iran beberapa hari setelah dimulainya perang AS-'Israel' di Iran (AFP)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - 'Israel' kini berada dalam status siaga tinggi (high alert) menyusul serangkaian serangan udara Amerika Serikat yang meluas terhadap target-target militer di Iran. Otoritas keamanan 'Israel' menyatakan telah meningkatkan kesiapan seluruh sistem pertahanan mereka guna mengantisipasi potensi serangan balasan dari Teheran maupun proksinya di Lebanon.

Situs berita Walla melaporkan bahwa militer 'Israel' telah mengaktifkan seluruh sistem pertahanan untuk menangani berbagai skenario ancaman, baik yang datang dari Iran (yang disebut sebagai "lingkaran ketiga") maupun dari front selatan Lebanon. Keputusan ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan lanjutan terhadap Iran sebagai konsekuensi atas gangguan terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz dilaporkan telah mengadakan serangkaian rapat keamanan darurat. Dalam pernyataan tegasnya, kedua pemimpin tersebut memperingatkan bahwa jika Iran memilih untuk memperluas eskalasi ke wilayah 'Israel', maka 'Israel' akan membalas dengan kekuatan militer yang besar.

Laporan dari Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa meskipun 'Israel' bersiap untuk skenario terburuk, penilaian intelijen saat ini mengindikasikan bahwa eskalasi tersebut kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi perang regional skala penuh. Analis keamanan di 'Israel' memprediksi bahwa Amerika Serikat saat ini menerapkan strategi diplomasi yang disertai tekanan militer, sembari berupaya menyeimbangkan kepentingan domestik, seperti menjaga harga minyak tetap stabil menjelang pemilihan paruh waktu di AS pada November mendatang.

Di sisi lain, muncul ketidakpastian mengenai keberlanjutan negosiasi nuklir. Sejumlah sumber Israel menyebutkan bahwa penilaian di internal pemerintahan Netanyahu adalah konfrontasi antara AS dan Iran kini menjadi hal yang sulit dihindari. AS dilaporkan mulai menggeser kembali aset militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling), kembali ke wilayah Timur Tengah dan 'Israel' setelah sempat ditarik ke Eropa beberapa pekan lalu.

Ketegangan ini juga memengaruhi agenda diplomatik. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dilaporkan membatalkan kunjungan perdananya ke 'Israel' yang dijadwalkan pada hari Rabu (8/7/2026) untuk mengoordinasikan rencana serangan. Pembatalan ini terjadi di tengah intensitas komunikasi langsung antara Presiden Trump dan PM Netanyahu mengenai perkembangan terkini.

Media penyiaran publik 'Israel' melaporkan bahwa komunikasi antara Washington dan Tel Aviv sangat erat dalam 24 jam terakhir. Kepala Staf Angkatan Bersenjata 'Israel', Eyal Zamir, telah memimpin serangkaian rapat evaluasi situasi dengan para panglima militer, intelijen, dan angkatan udara, serta terus berkoordinasi secara langsung dengan pejabat senior di Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM).

Laporan tersebut juga mencatat adanya pergeseran sikap dari pihak AS; jika sebelumnya Washington sempat mencegah 'Israel' untuk melakukan serangan besar terhadap Iran, kini terdapat pandangan bahwa Iran dianggap hanya mengulur waktu dalam negosiasi, sehingga langkah militer yang berkelanjutan oleh AS dinilai perlu dilakukan untuk menekan kemampuan nuklir Iran. (zarahamala/arrahmah.id)