ANKARA (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan langkah bersejarah dengan memulai proses penghapusan Suriah dari daftar State Sponsors of Terrorism (Negara Sponsor Terorisme) yang telah diberlakukan Washington sejak 1979.
Keputusan itu disampaikan langsung kepada Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa dalam pertemuan bilateral di Ankara, Turki, pada Selasa (8/7/2026), menandai perubahan besar dalam hubungan kedua negara setelah tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad pada 2024.
Dalam surat yang diserahkan kepada asy Syaraa, seperti dilansir Al Monitor (8/7), Trump menyatakan bahwa pemerintahannya berkomitmen menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi proses pemulihan Suriah.
Langkah tersebut dilakukan setelah Washington menilai pemerintahan baru Damaskus telah menunjukkan perubahan arah kebijakan dan berupaya menstabilkan negara yang hancur akibat perang berkepanjangan.
Penghapusan status tersebut juga diharapkan membuka jalan bagi investasi asing, bantuan internasional, dan integrasi kembali Suriah ke sistem keuangan global.
"Saya berjanji akan menghapus semua hambatan yang menghalangi Anda membangun kembali negara Anda, dan dalam waktu dekat Anda akhirnya akan dapat melakukannya," tulis Donald Trump dalam suratnya kepada Asy Syaraa, sebagaimana dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas bahwa Washington ingin membuka babak baru hubungan dengan Damaskus setelah puluhan tahun permusuhan diplomatik.
Dalam pertemuan yang juga disiarkan oleh C-SPAN, Trump memuji kepemimpinan Ahmad asy Syaraa dan menyebut pemimpin Suriah itu telah melakukan pekerjaan yang baik dalam menjaga stabilitas negara pasca-Assad.
Ketika ditanya wartawan mengenai kemungkinan pencabutan status sponsor terorisme terhadap Suriah, Trump menjawab, "Saya rasa saya akan melakukannya. Kenapa tidak? Dia telah melakukan pekerjaan yang hebat."
Menurut prosedur hukum Amerika Serikat, keputusan tersebut kini telah diberitahukan kepada Kongres dan akan menjalani masa peninjauan selama 45 hari sebelum berlaku secara resmi. Jika tidak ada penolakan dari Kongres, Suriah akan dikeluarkan dari daftar yang selama hampir lima dekade membatasi hubungan ekonomi dan diplomatiknya dengan Amerika Serikat.
Penghapusan status tersebut dipandang sebagai kemenangan diplomatik penting bagi pemerintahan Ahmad asy Syaraa. Sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, sebelumnya telah menyatakan kesiapan membantu rekonstruksi Suriah setelah sanksi internasional mulai dilonggarkan.
Suriah masuk ke daftar negara sponsor terorisme Amerika Serikat pada 1979 dan selama bertahun-tahun dikenai berbagai sanksi karena dituduh mendukung kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Kini, setelah perubahan pemerintahan di Damaskus dan normalisasi hubungan yang mulai berlangsung dengan sejumlah negara Barat dan Arab, Washington tampak mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengakhiri status tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
