Memuat...

Amjad Yusuf Ditangkap: Pelaku Pembantaian Tadamon dan Kasus Anak Rania Al-Abbasi

Samir Musa
Ahad, 31 Mei 2026 / 15 Zulhijah 1447 14:11
Amjad Yusuf Ditangkap: Pelaku Pembantaian Tadamon dan Kasus Anak Rania Al-Abbasi
Kementerian Dalam Negeri Suriah telah menangkap Amjad Yusuf dalam sebuah operasi keamanan di pedesaan Hama (Twitter Kementerian Dalam Negeri Suriah).

DAMASKUS (Arrahmah.id) – Luka lama rakyat Suriah kembali terbuka. Nama Amjad Yusuf, salah satu aparat brutal rezim Bashar al-Assad, kembali mencuat ke permukaan setelah bertahun-tahun menghilang. Ia bukan sekadar pelaku kejahatan, tetapi simbol dari kekejaman yang menimpa rakyat sipil tak berdosa selama revolusi Suriah.

Dikutip dari Al Jazeera, penangkapannya pada April 2026 membuka kembali tabir gelap kejahatan kemanusiaan, termasuk pembantaian massal di kawasan Al-Tadamon, Damaskus, serta dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan enam anak dokter Rania Al-Abbasi—sebuah tragedi yang mengguncang hati dunia.

Latar Belakang

Amjad Yusuf lahir pada 1986 di desa Naba’ al-Tayyib, wilayah Al-Ghab, barat laut Hama. Ia bergabung dengan Akademi Intelijen Militer pada 2004 dan menjalani pelatihan intensif sebelum masuk ke dalam struktur militer rezim.

Kariernya menanjak hingga ia bertugas di cabang intelijen militer 227, salah satu unit yang dikenal paling keras dalam menekan oposisi. Di posisi ini, ia berperan dalam penangkapan, penyiksaan, hingga eksekusi terhadap warga sipil yang dituduh menentang rezim.

Di salah satu dinding rumah yang hancur di Kamp Yarmouk, beberapa hari setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad (Al Jazeera).

Pembantaian Tadamon: Teror yang Terencana

Pada 1 April 2013, kawasan Tadamon menjadi saksi salah satu kejahatan paling keji dalam sejarah konflik Suriah. Warga sipil yang tidak bersenjata ditangkap, diikat, dan ditutup matanya.

Mereka kemudian diperdaya untuk berlari menuju sebuah lubang besar, seolah-olah menghindari ancaman penembak jitu. Namun, di sanalah mereka dieksekusi satu per satu.

Setelah ditembak, jasad para korban ditumpuk, dibakar, dan dikubur untuk menghilangkan jejak. Dalam satu rekaman saja, sedikitnya 41 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Namun, jumlah korban sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

Bagi warga setempat, peristiwa ini bukan sekadar pembantaian—melainkan pesan teror yang sengaja ditujukan untuk mematahkan keberanian rakyat.

Amjad Yusuf saat melakukan pembantaian di kawasan Tadamon, Damaskus (media sosial – 2013)

Terungkapnya Kejahatan

Identitas Amjad Yusuf terungkap melalui investigasi panjang dan rekaman video yang memperlihatkan wajahnya secara jelas saat melakukan eksekusi.

Lebih mengejutkan, ia sendiri mengakui sebagian perbuatannya dalam komunikasi dengan seorang aktivis yang menyamar sebagai pendukung rezim. Ia mengaku melakukan pembunuhan sebagai bentuk balas dendam pribadi.

Pengakuan ini memperkuat dugaan bahwa kejahatan yang dilakukan bukan hanya perintah atasan, tetapi juga didorong oleh motif pribadi yang brutal.

Dokter Suriah Rania Al-Abbasi ditangkap bersama anak-anaknya setelah suaminya terlebih dahulu ditangkap, sebelum kemudian terungkap bahwa rezim Assad telah membunuh mereka (media sosial).

Tragedi Anak-anak Rania Al-Abbasi

Salah satu bab paling menyayat hati adalah kasus hilangnya dokter Rania Al-Abbasi dan enam anaknya sejak 2013. Anak-anak tersebut—yang masih kecil dan tak berdaya—menghilang setelah keluarga mereka ditangkap aparat.

Selama bertahun-tahun, keluarga mereka hidup dalam ketidakpastian, berharap ada keajaiban. Namun, pada 2026, harapan itu pupus.

Penyelidikan terbaru menunjukkan bahwa anak-anak tersebut telah dibunuh, dan Amjad Yusuf diduga terlibat langsung. Kesaksian keluarga korban menyebut adanya rekaman yang memperlihatkan dirinya melakukan pembunuhan tersebut.

Tragedi ini menjadi simbol penderitaan ribuan keluarga Suriah yang kehilangan orang-orang tercinta tanpa jejak.

Amjad Yusuf mengakui melakukan pembantaian kepada seorang peneliti yang ia kira sebagai pendukung rezim Assad (media sosial)

Penangkapan dan Harapan Keadilan

Setelah runtuhnya rezim Assad pada akhir 2024, banyak pelaku kejahatan berusaha melarikan diri atau bersembunyi. Amjad Yusuf termasuk di antaranya.

Namun, setelah berbulan-bulan pelacakan, ia akhirnya ditangkap pada 24 April 2026 di pedesaan Hama. Penangkapan ini disambut sebagai langkah penting menuju keadilan.

Meski demikian, banyak pihak menilai bahwa satu penangkapan tidak cukup untuk menebus luka mendalam yang dialami rakyat Suriah.

Seruan Keadilan dan Ingatan Umat

Kasus Amjad Yusuf kembali mengingatkan dunia bahwa kejahatan terhadap rakyat sipil di Suriah bukanlah peristiwa terisolasi, melainkan bagian dari pola sistematis selama konflik berlangsung.

Bagi umat Islam dan masyarakat dunia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya membela keadilan dan tidak melupakan penderitaan saudara-saudara yang tertindas.

Hari ini, lokasi kuburan massal di Tadamon berdiri sebagai saksi bisu. Ia bukan hanya tempat peristirahatan para korban, tetapi juga peringatan keras bahwa kezaliman, sekejam apa pun, pada akhirnya akan terungkap.

Dan bagi keluarga korban, satu harapan tetap hidup: keadilan yang nyata, bukan sekadar janji.

(Samirmusa/arrahmah.id)