Memuat...

Arab Saudi dan Pakistan Tegas Tolak Abraham Accords

Hanoum
Jumat, 29 Mei 2026 / 13 Zulhijah 1447 04:57
Arab Saudi dan Pakistan Tegas Tolak Abraham Accords
Foto ilustrasi. [Foto: The Quint]

RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi dan Pakistan kembali menegaskan penolakan terhadap Abraham Accords atau perjanjian normalisasi hubungan dengan 'Israel', di tengah meningkatnya tekanan diplomatik Amerika Serikat untuk memperluas kesepakatan tersebut di kawasan Timur Tengah. Sikap dua negara Muslim itu menunjukkan isu Palestina masih menjadi hambatan utama normalisasi hubungan dengan Israel.

Penolakan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mendorong negara-negara Arab dan Muslim bergabung dalam Abraham Accords sebagai bagian dari strategi keamanan baru pasca konflik Iran-'Israel'. Namun Riyadh dan Islamabad menegaskan dukungan terhadap Palestina tetap menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri mereka.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan, seperti dilansir Reuters (28/6/2026), normalisasi hubungan dengan 'Israel' tidak akan dilakukan tanpa pembentukan negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Sikap itu kembali ditegaskan di tengah spekulasi bahwa Washington sedang menekan Riyadh untuk membuka hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.

“Kerajaan tidak akan menghentikan upayanya untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka,” kata Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dikutip dari Al Jazeera.

Pakistan juga menyampaikan sikap serupa. Pemerintah Islamabad menegaskan mereka tidak akan mengakui 'Israel' sampai rakyat Palestina memperoleh hak-hak mereka secara penuh. Pakistan selama ini termasuk negara Muslim yang konsisten menolak hubungan diplomatik resmi dengan 'Israel'.

“Pakistan akan terus berdiri bersama rakyat Palestina sampai mereka mendapatkan negara merdeka,” ujar Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif .

Abraham Accords pertama kali diperkenalkan pada 2020 ketika pemerintahan Donald Trump berhasil memediasi normalisasi hubungan 'Israel' dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Washington berharap lebih banyak negara Arab bergabung untuk membangun blok keamanan regional bersama 'Israel'.

Namun perang Gaza yang berlangsung sejak 2023 membuat proses normalisasi semakin sulit. Kemarahan publik di dunia Arab terhadap operasi militer 'Israel' menyebabkan banyak pemerintah menghadapi tekanan domestik untuk menolak hubungan resmi dengan Tel Aviv.

Analis Timur Tengah menilai sikap Arab Saudi sangat penting karena Riyadh dianggap sebagai pemain utama dunia Islam dan penjaga dua kota suci Makkah serta Madinah. Jika Saudi menolak normalisasi, maka peluang perluasan Abraham Accords ke negara-negara Muslim lain diperkirakan akan melambat.

Sementara itu, Amerika Serikat terus berupaya melanjutkan diplomasi regional guna memperluas kerja sama keamanan Timur Tengah di tengah konflik Iran, perang Gaza, dan meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. (hanoum/arrahmah.id)