BADAKHSHAN (Arrahmah.id) - Gubernur Badakhshan mengatakan tidak ada kelompok atau faksi yang akan diizinkan untuk mengancam keamanan Afghanistan.
Mohammad Ismail Ghaznawi mengatakan bahwa meskipun menerima dukungan dari NATO dan Amerika Serikat di masa lalu, lawan-lawan Imarah Islam gagal mencapai tujuan mereka dan tidak akan mampu merebut kembali kekuasaan.
Ia menambahkan bahwa lawan-lawan tersebut dapat menyelesaikan masalah mereka melalui dialog, dan mengatakan bahwa pintu Imarah Islam tetap terbuka bagi mereka, lansir Tolo News (27/7/2026).
Berpidato di sebuah pertemuan di Badakhshan, Ghaznawi berkata: "Biarkan orang-orang ini hidup tenang. Kami tahu bagaimana melawan kalian. Kalian boleh membawa mimpi kalian untuk memerintah negara ini sampai ke liang kubur. Tetapi saya menyarankan kalian untuk tidak melakukan ini."
Beberapa peserta acara tersebut juga mengatakan bahwa mereka yang tidak memanfaatkan amnesti umum dan terus melakukan penentangan tidak mampu menghadapi Imarah Islam.
Abdul Jamil Sayes, rektor Universitas Takhar, mengatakan: "Para penentang telah berulang kali ditawari pesan rekonsiliasi dan amnesti. Karena mereka tidak memanfaatkan kesempatan ini dan terus menentang, mereka tidak dapat mencapai apa pun."
Sementara itu, warga Badakhshan mengatakan perang bukanlah solusi dan semua pihak harus menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog.
Saifullah Shukuryar, seorang warga Badakhshan, mengatakan: "Menurut saya, perang bukanlah solusi. Perang tidak dapat membangun apa pun; perang hanya merenggut nyawa orang miskin."
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan dalam beberapa pekan terakhir tentang bentrokan antara pasukan Imarah Islam dan kelompok bersenjata di sepanjang Garis Durand di Badakhshan.
Bentrokan tersebut dilaporkan dimulai setelah pejabat keamanan mengatakan sebuah kelompok bersenjata mencoba memasuki sebagian distrik Zebak di Badakhshan.
Kepala Staf Angkatan Darat Kementerian Pertahanan Imarah Islam mengatakan insiden tersebut telah ditangani dan situasi keamanan di daerah tersebut terkendali. (haninmazaya/arrahmah.id)
