JAKARTA (Arrahmah.id) – Nama Dr. Abdul Karim Raed Miqdad menjadi sorotan publik setelah kabar penangkapan dan deportasinya dari Indonesia ke Republik Siprus pada Juli 2026. Di tengah berbagai tuduhan yang beredar, sejumlah pihak yang mengenal dekat dirinya memberikan gambaran berbeda mengenai sosok akademisi asal Palestina tersebut.
Kepada Arrahmah.id, pihak-pihak yang pernah berinteraksi dengan Abdul Karim di Malaysia dan Indonesia menyampaikan bahwa ia dikenal sebagai seorang akademisi, pendidik, dan aktivis kemanusiaan yang selama bertahun-tahun mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan serta isu-isu kemanusiaan Palestina.
Putra Gaza yang Tekun Menuntut Ilmu
Dr. Abdul Karim Raed Miqdad merupakan warga Palestina asal Jalur Gaza. Ia lahir pada 14 Desember 1985 dan merupakan lulusan Universitas Zaitunah di Tunisia.
Ia tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Palestina yang menghadapi berbagai dinamika kehidupan akibat konflik berkepanjangan.
Dalam perjalanan akademiknya, Abdul Karim kemudian melanjutkan pendidikan di Malaysia. Di negeri tersebut, ia mendalami ilmu syariah hingga berhasil meraih gelar doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM) atau dikenal juga sebagai Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM).

Orang-orang yang mengenalnya menggambarkan Abdul Karim sebagai sosok yang tekun dalam menuntut ilmu, disiplin, serta memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan.
Perjalanan akademiknya tidak hanya berhenti pada pencapaian gelar, tetapi menjadi dasar baginya untuk terlibat dalam kegiatan pendidikan, pembinaan masyarakat, dan aktivitas sosial.
Membangun Pendidikan dan Membina Generasi
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Abdul Karim menetap di Indonesia selama kurang lebih lima tahun.
Selama berada di Indonesia, ia aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan pendidikan. Ia memberikan perhatian terhadap pengembangan lembaga pendidikan, membantu membangun pusat-pusat pembelajaran, serta terlibat dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak dan generasi muda.
Bagi Abdul Karim, pendidikan merupakan jalan penting dalam membangun manusia dan masyarakat.

Aktivitasnya lebih banyak berfokus pada pengajaran, pembinaan, serta kegiatan ilmiah. Pihak yang mengenalnya menyebutnya sebagai pribadi yang serius dalam bekerja, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan pendidikan.
Kehidupan di Indonesia
Selama tinggal di Indonesia, Abdul Karim menjalani kehidupan sebagai seorang akademisi dan pendidik.
Menurut keterangan orang-orang terdekatnya, ia berusaha mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia, termasuk menyelesaikan berbagai administrasi terkait izin tinggal.

Mereka menyatakan tidak mengetahui adanya pelanggaran hukum maupun persoalan keamanan yang melibatkan dirinya selama berada di Indonesia.
Hubungannya dengan masyarakat Indonesia juga disebut berjalan baik. Ia dikenal mudah bergaul, menghormati lingkungan sekitar, serta aktif berinteraksi melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
Menyuarakan Palestina Melalui Jalur Pendidikan dan Kemanusiaan
Selain aktivitas akademik, Abdul Karim juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap persoalan Palestina.
Menurut pihak yang mengenalnya, ia aktif menyampaikan informasi mengenai kondisi rakyat Palestina melalui kegiatan pendidikan, forum sosial, serta berbagai aktivitas yang bersifat edukatif dan kemanusiaan.
Aktivitas tersebut, kata mereka, dilakukan melalui pendekatan damai dan intelektual dengan fokus pada penyampaian informasi, pembelaan terhadap hak-hak rakyat Palestina, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu kemanusiaan.
Sebagai putra Gaza, Abdul Karim disebut memiliki harapan agar Palestina dapat terbebas dari penjajahan dan rakyatnya dapat menjalani kehidupan yang aman serta damai, termasuk dalam memperoleh pendidikan tanpa gangguan konflik, kekerasan, maupun penindasan.

Sosok yang Dikenal Santun dan Bertanggung Jawab
Orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Abdul Karim menggambarkannya sebagai pribadi yang santun, berakhlak baik, dan bertanggung jawab.
Sebagai seorang suami dan ayah dari delapan anak, ia dikenal sebagai sosok yang memperhatikan keluarga sekaligus aktif menjalankan tanggung jawab sosialnya.
Mereka menyebut Abdul Karim memiliki hubungan baik dengan berbagai kalangan di Indonesia serta dikenal sebagai pribadi yang menghormati hukum dan norma masyarakat.
Karena itu, kabar mengenai penangkapan dan deportasinya mengejutkan sejumlah pihak yang selama ini mengenalnya.

Sorotan terhadap Tuduhan yang Dialamatkan
Terkait berbagai tuduhan yang dikaitkan dengan Abdul Karim Miqdad, pihak keluarga dan orang-orang terdekatnya meminta agar seluruh proses dilakukan melalui mekanisme hukum yang transparan dan adil.
Mereka menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun tinggal di Indonesia, Abdul Karim tidak diketahui melakukan aktivitas yang melanggar hukum.
Menurut mereka, setiap tuduhan terhadap seseorang harus dibuktikan melalui proses hukum yang independen dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.
Mereka juga menilai pentingnya memastikan setiap orang memperoleh hak hukum, termasuk mengetahui tuduhan yang dikenakan kepadanya, mendapatkan pendampingan hukum, serta memiliki kesempatan untuk membela diri.
Menanti Proses Hukum yang Transparan
Kasus Abdul Karim Miqdad menjadi perhatian setelah ia ditangkap di Indonesia dan kemudian dipindahkan ke Republik Siprus.
Di tengah berbagai informasi yang berkembang, pihak keluarga berharap proses terhadap dirinya berjalan secara terbuka dan sesuai dengan prinsip keadilan.
Bagi orang-orang yang mengenalnya, Abdul Karim bukan hanya seorang warga Palestina yang memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsanya, tetapi juga seorang akademisi dan pendidik yang selama ini mengabdikan dirinya dalam bidang ilmu, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
(Samirmusa/arrahmah.id)
