Memuat...

Mantan Tentara AS: Banyak Prajurit Yakin Mereka Berperang Demi "Israel", Bukan Amerika

Samir Musa
Senin, 27 Juli 2026 / 13 Safar 1448 22:51
Mantan Tentara AS: Banyak Prajurit Yakin Mereka Berperang Demi "Israel", Bukan Amerika
Pernyataan mantan prajurit Amerika Serikat, Shawn Ryan, memicu perdebatan mengenai misi militer AS. (Kanal YouTube Tucker Carlson)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Pernyataan mantan prajurit Amerika Serikat, Shawn Ryan, memicu perdebatan luas setelah ia mengungkapkan bahwa sejumlah personel militer AS meyakini mereka berperang demi kepentingan "Israel", bukan untuk membela Amerika Serikat.

Dilansir Al Jazeera pada Ahad (27/7/2026), Ryan menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara bersama jurnalis Amerika, Tucker Carlson. Dalam perbincangan itu, ia menyinggung berbagai isu, mulai dari usulan mengganti nama Departemen Pertahanan AS menjadi "Departemen Perang", kinerja Menteri Pertahanan Pete Hegseth, hingga menurunnya kepercayaan sebagian prajurit terhadap misi militer yang mereka jalankan.

Ryan menilai usulan perubahan nama Departemen Pertahanan menjadi "Departemen Perang" sebagai langkah yang tidak perlu.

"Saya pikir itu benar-benar ide yang bodoh. Saya bertanya-tanya, untuk apa? Jelas itu hanya akan menjadi tontonan media," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi sejumlah kebijakan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, terutama pencabutan beberapa program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) di lingkungan militer.

"Saya pikir itu langkah yang baik. Dia telah melakukan beberapa hal positif," katanya.

Namun, Ryan mengaku ragu sejauh mana Hegseth masih memiliki pengaruh nyata dalam menentukan arah kebijakan militer AS.

Berbicara mengenai kondisi di tubuh militer, Ryan mengatakan moral sebagian prajurit memang membaik, tetapi banyak rekannya yang baru saja mengakhiri masa dinas menyampaikan keresahan yang sama.

"Mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang tahu bahwa mereka berperang untuk 'Israel'. Ini benar-benar menggelikan," ujar Ryan.

Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan pandangan pribadinya semata, melainkan berasal dari percakapan dengan para prajurit aktif, termasuk anggota pasukan khusus elite.

"Ini bukan kata-kata saya. Ini yang dikatakan para prajurit sendiri. Mereka bercanda bahwa ini bukan perang untuk kami," katanya.

Menurut Ryan, strategi militer tidak akan berhasil apabila para prajurit tidak lagi percaya terhadap misi yang diperintahkan kepada mereka.

"Sepanjang sejarah, strategi seperti itu tidak pernah membawa keberhasilan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa banyak prajurit khawatir suatu saat akan diperintahkan menjalankan operasi yang mereka yakini bukan demi kepentingan Amerika Serikat.

"Jika negara asing itu menginginkan perang, biarkan mereka sendiri yang berperang. Kami tidak sedang membela negara kami," tegasnya.

Pernyataan Ryan segera menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah tokoh dan aktivis Amerika membagikan cuplikan wawancara tersebut dengan beragam tanggapan.

Mantan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS Michael Flynn menyebut kesaksian Ryan sebagai pernyataan yang "kuat". Sementara komentator politik Jackson Hinkle menulis bahwa militer AS menyadari mereka "berperang untuk 'Israel'", sesuatu yang menurutnya sangat ironis.

Aktivis sekaligus politikus Amerika, Brick Worsham, juga menilai pengakuan Ryan menunjukkan sebagian anggota militer mulai menyadari bahwa mereka dikirim bertempur demi kepentingan "Israel", dan menyebut kondisi itu sebagai sesuatu yang sangat menyedihkan.

Perdebatan tersebut muncul di tengah terus berlangsungnya diskusi di Amerika Serikat mengenai peran militer AS dalam berbagai konflik luar negeri, khususnya di tengah berlanjutnya dukungan militer dan politik Washington kepada "Israel". Sejumlah kalangan mempertanyakan dampak kebijakan tersebut terhadap moral prajurit serta arah kebijakan pertahanan Amerika.

(Samirmusa/arrahmah.id)