Memuat...

Mengapa Militer AS Kerap Menggempur Iran pada Malam Hari? Begini Analisis Pakar

Zarah Amala
Kamis, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 10:30
Mengapa Militer AS Kerap Menggempur Iran pada Malam Hari? Begini Analisis Pakar
Pakar militer: Mengandalkan kegelapan malam merupakan keunggulan bagi militer AS dalam eskalasi konfliknya melawan Iran (Al Jazeera)

KAIRO (Arrahmah.id) - Di balik gelombang serangan udara beruntun yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap target-target militer di Iran sejak eskalasi pecah, terdapat sebuah pola konsisten: sebagian besar gempuran mematikan tersebut dilancarkan di pada malam hari.

Menurut para pengamat, pemilihan waktu ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari doktrin militer terpadu Washington yang memadukan keunggulan teknologi, rekayasa termal, perang psikologis, hingga faktor zona waktu.

Pakar urusan militer dan keamanan maritim, Mayor Jenderal Mohamed Abdel Wahed, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa sementara banyak tentara menghindari "perang malam" akibat keterbatasan teknologi dan lebih mengandalkan serangan fajar, militer AS justru memandang kegelapan malam sebagai sekutu strategis.

Faktor pembeda utama dalam operasi malam hari ini terletak pada superioritas teknologi optik dan pencitraan. Militer AS dilengkapi dengan kacamata penglihatan malam (night vision) serta teknologi pencitraan inframerah termal yang terintegrasi dalam jet tempur siluman seperti B-2 dan F-35, serta armada pesawat nirawak (drone). Perangkat canggih ini membuat kegelapan malam seolah menjadi "terang benderang" bagi pasukan AS.

Ironisnya, kegelapan yang diharapkan menjadi perisai bagi pasukan Iran justru berbalik menjadi kelemahan fatal. Suhu dingin malam hari membuat kendaraan berlapis baja, konvoi rudal, dan peralatan militer memancarkan gelombang panas yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, alih-alih tersamarkan, armada militer Iran justru menjadi sasaran yang jauh lebih mudah dideteksi oleh sensor inframerah AS dibandingkan pada siang hari.

Kondisi ini menempatkan Iran dalam dilema taktis yang sulit: menyalakan radar pertahanan udara untuk mendeteksi musuh berisiko menarik serangan rudal anti-radiasi AS, sementara memadamkannya membuat pasukan Iran buta terhadap pergerakan jet tempur siluman yang menyerang dari jarak jauh.

Jaringan Komando dan Perang Psikologis

Selain keunggulan perangkat keras, AS mengandalkan apa yang disebut Abdel Wahed sebagai "simpul jaringan" (network nodes), sebuah infrastruktur kompleks yang menghubungkan satelit, platform peluncuran, jet siluman, dan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan menghancurkan target dalam waktu singkat. Di sisi lain, serangan gencar di tengah malam turut memicu disorientasi psikologis dan kekacauan dalam rantai komando Iran, di mana setiap upaya pergerakan pasukan atau kendaraan di malam hari seketika memancarkan tanda termal yang mengundang serangan presisi.

Dari sudut pandang strategis Washington, pemilihan waktu ini juga diselaraskan dengan perbedaan zona waktu, di mana operasi malam hari di Timur Tengah bertepatan dengan jam kerja siang hari di Gedung Putih dan Komando Pusat AS (CENTCOM). Sinkronisasi ini memudahkan para pengambil kebijakan di AS untuk memantau, mengarahkan, dan mengelola narasi media secara langsung. Kendati Iran berupaya melakukan perlawanan asimetris dan menargetkan simpul jaringan sekutu AS di kawasan, jurang pemisah teknologi yang masif masih mempertahankan dominasi operasional di tangan Washington. (zarahamala/arrahmah.id)