LONDON (Arrahmah.id) -- Aktivis sayap kanan Inggris, Kellie-Jay Keen, menuai kecaman luas setelah sebuah video memperlihatkan dirinya mendatangi dan mengganggu dua pria Muslim yang sedang menunaikan shalat di Hyde Park, London. Insiden yang terjadi di salah satu taman publik paling terkenal di Inggris itu memicu perdebatan mengenai kebebasan beragama, toleransi, dan meningkatnya sentimen anti-Muslim di negara tersebut.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan Keen berdiri tepat di depan dua pria Muslim yang sedang melaksanakan shalat. Dalam rekaman tersebut, ia mempertanyakan mengapa keduanya beribadah di tempat umum dan menyatakan bahwa praktik tersebut tidak sesuai dengan budaya Inggris. Insiden itu kemudian menjadi viral setelah dibagikan oleh sejumlah media dan aktivis hak asasi manusia.
Dalam video tersebut, seperti dilansir Middle East Eye (27/6/2026), Kellie-Jay Keen terdengar mengatakan, "Ini bukan yang kami lakukan di negara ini," sebelum menambahkan, "Saya seorang Islamofobia, bukan seorang rasis." Pernyataan itu memicu kritik dari berbagai kalangan yang menilai tindakannya sebagai bentuk pelecehan terhadap kebebasan beragama dan tindakan yang secara sengaja menargetkan umat Islam.
Menurut laporan Middle East Eye, kedua pria tersebut tetap berusaha melanjutkan shalat mereka meskipun terus mendapat komentar dan gangguan verbal. Para pengkritik menilai tindakan Keen dilakukan secara sengaja untuk memancing konfrontasi dengan orang yang sedang menjalankan ibadah wajib dalam Islam.
Kontroversi semakin membesar setelah Keen mengunggah foto dari insiden tersebut ke media sosial. Dalam unggahan itu, ia menuliskan kalimat yang oleh banyak pihak dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kedua pria Muslim tersebut.
Unggahan tersebut memicu gelombang kecaman dari aktivis hak sipil, organisasi Muslim, dan pengguna media sosial yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelecehan publik terhadap orang yang sedang beribadah.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Inggris menyatakan bahwa umat Islam memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan mereka selama tidak melanggar hukum.
Dalam Islam, shalat lima waktu dilakukan pada waktu-waktu tertentu setiap hari. Karena itu, ketika waktu salat tiba saat seseorang berada di luar rumah, mereka diperbolehkan menunaikannya di tempat yang bersih dan aman, termasuk taman umum atau ruang terbuka.
Kelompok advokasi anti-diskriminasi juga menyoroti meningkatnya insiden Islamofobia di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menilai tindakan yang terekam dalam video tersebut mencerminkan bentuk permusuhan terhadap umat Islam yang masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat multikultural Inggris.
Seorang juru bicara organisasi pemantau kebencian terhadap Muslim mengatakan bahwa tindakan mengganggu orang yang sedang beribadah tidak dapat dibenarkan.
"Setiap orang berhak menjalankan keyakinannya tanpa intimidasi atau pelecehan. Menargetkan seseorang saat sedang berdoa merupakan tindakan yang sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai penyelidikan polisi terkait insiden tersebut. Namun peristiwa itu terus menjadi perbincangan di media sosial dan memunculkan seruan agar pemerintah Inggris mengambil langkah lebih tegas dalam menangani tindakan yang dianggap mendorong kebencian terhadap kelompok agama tertentu. (hanoum/arrahmah.id)
