Memuat...

Berpelaminan Kursi Roda, 40 Pengantin Difabel di Gaza Gelar Nikah Massal

Zarah Amala
Jumat, 12 Juni 2026 / 27 Zulhijah 1447 11:09
Berpelaminan Kursi Roda, 40 Pengantin Difabel di Gaza Gelar Nikah Massal
Sebuah asosiasi Maroko mendukung upacara pernikahan bagi para korban perang genosida di Mawasi Khan Yunis (Agencies)

KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Tengah berkecamuknya konflik tak menyurutkan langkah warga Palestina untuk merajut asa baru. Wilayah Al-Mawasi di barat daya Khan Yunis, Jalur Gaza, menjadi saksi bisu digelarnya prosesi pernikahan massal yang mengharukan bagi 40 pasang pengantin yang terdiri dari penyandang disabilitas (difabel) dan para korban luka perang.

Acara ini diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan lokal, Qanatir Al-Khair Association, dengan dukungan pendanaan penuh serta sponsor dari para donatur rakyat Maroko. Berkolaborasi dengan sejumlah institusi bantuan kemanusiaan dan kepemudaan, inisiatif sosial ini dirancang khusus untuk memberikan dukungan moral sekaligus meringankan beban ekonomi finansial yang sangat berat untuk melangsungkan pernikahan di tengah situasi perang yang serba terbatas.

Hazem Suleiman, salah satu panitia penyelenggara acara, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa prioritas utama dari proyek sosial ini adalah kelompok masyarakat rentan yang mengalami cedera fisik permanen akibat perang.

Sebagian besar pengantin pria maupun wanita merupakan penyintas yang kehilangan anggota tubuh (tangan atau kaki) akibat terkena serpihan bom. Beberapa pengantin mengalami kehilangan satu organ penglihatan serta mengalami disabilitas rungu (tuna rungu). Terdapat pengantin yang harus menjalani pelaminan di atas kursi roda akibat menderita kelumpuhan sebagian tubuh (paraplegia).

Meski digelar di bawah bayang-bayang situasi darurat, resepsi pernikahan ini kental dengan nuansa perayaan budaya. Sebuah grup kesenian rakyat lokal tampil membawakan tarian tradisional Dabke diiringi lagu-lagu rakyat Palestina, sementara para pengantin wanita tampak anggun mengenakan gaun bordir tradisional khas petani Palestina (Thobe).

Selain bantuan dana tunai untuk modal awal kehidupan dari donatur Maroko, para pengantin baru juga menerima bantuan logistik darurat dari lembaga lokal berupa tenda hunian siap pakai dan paket sembako makanan pokok untuk bertahan hidup di kamp pengungsian.

Kegiatan ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa masyarakat Gaza menolak untuk menyerah pada keadaan. Pernikahan massal ini bukan sekadar seremoni perayaan cinta, melainkan sebuah simbol perlawanan kemanusiaan, ketahanan spiritual, dan tekad mendasar bangsa Palestina untuk terus melanjutkan regenerasi kehidupan di atas tanah kelahiran mereka meskipun dikepung oleh kehancuran fisik. (zarahamala/arrahmah.id)