Memuat...

Bukti Tidak Kuat, Empat Pemuda Muslim yang Dihukum Seumur Hidup di Inggris Minta Kasusunya Dibuka Ulang

Hanoum
Kamis, 20 Agustus 2026 / 8 Rabiulawal 1448 04:06
Bukti Tidak Kuat, Empat Pemuda Muslim yang Dihukum Seumur Hidup di Inggris Minta Kasusunya Dibuka Ulang
Dari kiri: Tahir Aziz, Naweed Ali, Mohibur Rahman dan Khobaib Hussain, yang ditangkap pada tahun 2017 dan dihukum karena merencanakan serangan teroris. [Foto: Kepolisian West Midlands/PA]

LONDON (Arrahmah.id) -- Empat pria yang dikenal sebagai “Birmingham Four” berharap penyelidikan publik terhadap operasi polisi undercover di Inggris dapat membuka jalan bagi pemeriksaan kembali vonis mereka. Keempatnya—Khobaib Hussain, Naweed Ali, Mohibur Rahman, dan Tahir Aziz—dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2017 karena dinyatakan merencanakan serangan teror, tetapi pengacara mereka kini menilai temuan dalam Undercover Policing Inquiry memperkuat dugaan bahwa barang bukti telah direkayasa oleh aparat.

Dilansir The Guardian (13/8/2026), kasus tersebut bermula dari operasi penyamaran polisi yang menggunakan perusahaan kurir fiktif bernama Hero Couriers untuk mendekati Hussain dan Ali. Operasi itu melibatkan seorang polisi undercover dengan nama samaran “Vincent”, yang bekerja untuk unit Special Projects Team milik West Midlands Police.

Pada hari pertama Ali bekerja di perusahaan tersebut, aparat menemukan sebuah tas di bawah kursi mobilnya yang berisi bom pipa yang belum selesai dirakit, benda yang diduga pistol, serta pisau daging dengan tulisan “kafir”.

Namun, sejak persidangan, tim pembela mempertahankan tuduhan bahwa tas tersebut ditanam oleh polisi undercover. Klaim itu ditolak oleh aparat dan kemudian oleh juri yang menyatakan keempat terdakwa bersalah. Pada 2018, Pengadilan Banding Inggris juga mempertahankan vonis mereka dan menyatakan tidak menemukan dasar yang meragukan keamanan putusan tersebut.

Kini, pengacara hak asasi manusia Gareth Peirce, yang mewakili sejumlah anggota Birmingham Four, telah mengajukan informasi tambahan kepada Criminal Cases Review Commission (CCRC).

Materi tersebut mencakup bukti dari penyelidikan terhadap operasi polisi undercover yang tengah berlangsung dan, menurut Peirce, memiliki kemiripan dengan dugaan rekayasa barang bukti dalam perkara Birmingham Four.

Penyelidikan publik tersebut mengungkap dugaan bahwa seorang polisi undercover lain sebelumnya pernah membuat skenario mengenai kepemilikan senjata untuk menjebak seorang aktivis.

Peirce mengatakan pola itu memiliki kemiripan dengan perkara Birmingham Four, terutama karena dalam kedua kasus terdapat polisi undercover yang memiliki akses terhadap senjata dan kemudian mengklaim “menemukan” senjata dalam kendaraan orang yang sedang mereka awasi.

Gareth Peirce mengatakan, “Kebetulan dan kemiripan dengan bukti dalam penuntutan Birmingham Four sangat persis—seorang polisi undercover yang memiliki akses terhadap senjata mengaku menemukan sebuah rencana yang dilakukan orang yang sedang dia awasi.”

Menurutnya, penyelidikan tersebut menunjukkan betapa mudahnya seorang petugas undercover memalsukan bukti dan bagaimana organisasi dapat melakukan upaya penutupan terhadap pelanggaran tersebut.

Pengacara Stephen Kamlish, yang membela Naweed Ali dalam persidangan 2017, juga mempertahankan keyakinannya bahwa keempat pria tersebut tidak bersalah.

Ia mengatakan bukti dalam persidangan justru mendukung posisi kliennya, termasuk fakta bahwa Ali dengan sukarela menyerahkan kunci mobilnya kepada “Vincent”. “Saya sama sekali tidak meragukan bahwa para terdakwa itu tidak bersalah—semuanya,” kata Kamlish.

Keluarga para terpidana selama bertahun-tahun juga mempertanyakan asal-usul tas berisi senjata tersebut. Mariam, saudara perempuan Khobaib Hussain, mengatakan tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa tas tersebut benar-benar milik salah satu dari empat pria itu. Ia juga mengkritik lambannya proses peninjauan oleh CCRC.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa tas ini milik salah satu dari empat orang yang dihukum,” kata Mariam. Ia mengatakan keluarganya masih hidup dalam tekanan akibat perkara tersebut dan terus berusaha mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang belum terjawab sejak penangkapan mereka hampir satu dekade lalu.

Keempat pria itu ditangkap pada 2016 dan kemudian dihukum pada 2017. Menurut catatan perkara, operasi tersebut juga melibatkan MI5. Pada saat persidangan, polisi undercover memberikan kesaksian dengan perlindungan identitas. Pembela kemudian menyoroti komunikasi internal antara sejumlah petugas undercover yang menurut mereka menimbulkan pertanyaan mengenai cara operasi tersebut dijalankan.

Perkara ini kini berada di tangan CCRC, lembaga independen yang bertugas meninjau kemungkinan terjadinya keguguran keadilan dalam perkara pidana di Inggris dan Wales. CCRC mengonfirmasi bahwa permohonan terkait Birmingham Four masih dalam proses pemeriksaan dan belum menghasilkan kesimpulan. (hanoum/arrahmah.id)