DURUPINAR (Arrahmah.id) -- Pencarian bahtera Nabi Nuh memasuki babak baru setelah tim peneliti internasional mengebor Formasi Durupinar di Turki dan mengambil sampel inti dari kedalaman hampir 18 meter. Formasi berbentuk kapal sepanjang sekitar 157 meter itu selama puluhan tahun dikaitkan dengan lokasi bahtera dalam kisah Nabi Nuh, tetapi hingga kini belum ada bukti ilmiah yang memastikan bahwa struktur tersebut benar-benar merupakan peninggalan kapal kuno.
Dilansir Daily Star (27/9/2026), penelitian terbaru dilakukan oleh tim Noah's Ark Scans bersama sejumlah arkeolog, ahli geologi dan ilmu tanah, dengan penelitian lapangan yang dipimpin arkeolog Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University. Pemerintah dan sejumlah lembaga Turki telah memberikan izin penelitian terhadap kawasan tersebut. Tim menggunakan survei radar penembus tanah atau ground-penetrating radar (GPR), pengeboran inti, serta robot bawah tanah bernama Gopher untuk memeriksa struktur di bawah permukaan tanpa harus melakukan penggalian besar.
Dari pengeboran tersebut, tim melaporkan belum menemukan lapisan batuan dasar atau batu kapur padat pada sejumlah lubang yang dibuat hingga kedalaman hampir 18 meter. Peneliti juga mengatakan sampel yang diperoleh akan dianalisis di laboratorium untuk mengetahui komposisi material dan kandungan organiknya. Hasil analisis inilah yang diharapkan dapat memberikan petunjuk apakah struktur Durupinar merupakan formasi geologi alami atau memiliki struktur internal yang berbeda dari batuan di sekitarnya.
Tim sebelumnya mengklaim hasil pemindaian radar menunjukkan adanya struktur yang mereka tafsirkan sebagai kemungkinan koridor atau ruang di bawah permukaan. Robot Gopher kemudian digunakan untuk memasuki bagian yang dapat diakses melalui lubang pengeboran dan menghasilkan rekaman dari bawah permukaan. Tim menyebutnya sebagai rekaman pertama dari bagian dalam formasi yang selama ini dikaitkan dengan Bahtera Nuh. Namun, keberadaan ruang tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa struktur itu merupakan kapal atau bangunan buatan manusia.
Formasi Durupinar berada di Provinsi Ağrı, Turki timur, di sebelah selatan Gunung Ararat. Bentuknya yang menyerupai kapal pertama kali menarik perhatian setelah ditemukan melalui foto udara pada 1959. Sejak saat itu, lokasi tersebut menjadi salah satu tempat yang paling sering dikaitkan dengan pencarian Bahtera Nuh. Ukurannya sekitar 157 meter juga kerap dibandingkan dengan ukuran bahtera yang disebut dalam Kitab Kejadian, meskipun kesamaan bentuk dan ukuran tersebut tidak dapat menjadi bukti arkeologis dengan sendirinya.
Perdebatan mengenai Durupinar sebenarnya telah berlangsung selama beberapa dekade. Sejumlah penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa struktur tersebut merupakan formasi geologi alami yang terbentuk melalui proses batuan dan erosi. Karena itu, penelitian terbaru tidak hanya mencari bukti yang mendukung teori Bahtera Nuh, tetapi juga berusaha menguji apakah penjelasan bahwa Durupinar hanyalah formasi batuan alami dapat dipertahankan berdasarkan data baru.
Penelitian pada 2026 ini melibatkan sekitar 20 ilmuwan dan mahasiswa dari lima negara pada tahap awalnya. Berdasarkan rencana penelitian yang diumumkan tim, sampel inti dan tanah akan terus dianalisis selama periode berikutnya, sementara keseluruhan penelitian dijadwalkan berlanjut hingga 2027. Hasilnya kemudian direncanakan dipublikasikan dalam laporan ilmiah dan sejumlah makalah untuk dapat ditelaah oleh komunitas akademik internasional. (hanoum/arrahmah.id)
