Memuat...

Iran Tunggu Jawaban AS soal Pembukaan Selat Hormuz, Bersiap Hadapi Eskalasi

Zarah Amala
Senin, 28 September 2026 / 17 Rabiulakhir 1448 11:30
Iran Tunggu Jawaban AS soal Pembukaan Selat Hormuz, Bersiap Hadapi Eskalasi
Iran mengatakan pihaknya memprioritaskan diplomasi dalam upaya mencari jalan keluar dari krisis saat ini (Reuters)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Di tengah ketidakpastian diplomasi, Teheran menegaskan tetap mengutamakan negosiasi, tetapi juga bersiap menghadapi kemungkinan kembali terjadi eskalasi militer.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyampaikan proposal kepada Washington melalui mediator Qatar. Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran dipenuhi.

Presiden AS Donald Trump telah menyatakan penolakannya terhadap proposal tersebut. Trump mengatakan tekanan ekonomi terhadap Iran telah mendorong Teheran mencari kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran itu.

Namun, Araghchi mengatakan Iran belum menerima jawaban resmi dari Washington melalui para mediator. Ia mengakui telah mendengar pernyataan Trump mengenai penolakan proposal tersebut, tetapi masih menunggu respons resmi sebelum menentukan langkah berikutnya.

“Kami belum menerima jawaban dari para mediator. Kami menunggu jawaban yang menentukan melalui mediator dan akan mengambil keputusan berdasarkan respons yang kami terima,” kata Araghchi, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.

Iran masih buka jalur diplomasi

Araghchi mengatakan Teheran tidak ingin menutup jalur perundingan dengan Washington. Menurutnya, penyelesaian melalui negosiasi merupakan jalan untuk menangani krisis keamanan energi global.

Proposal terbaru Iran disebut merujuk pada kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu. Teheran mengusulkan penghentian segera pertempuran di seluruh front, termasuk Lebanon, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Menurut laporan Axios, mediator Qatar masih melakukan diplomasi bolak-balik antara Washington dan Teheran. Qatar disebut telah membahas proposal awal Iran dengan kedua pihak dan mengajukan proposal kompromi untuk ditinjau.

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner juga dilaporkan kembali melakukan perundingan tidak langsung dengan Araghchi di New York, dengan pejabat Qatar menyampaikan pesan antara kedua pihak.

Namun, laporan mengenai kemungkinan putaran baru perundingan masih berbeda. Axios mengutip sumber regional yang memperkirakan dialog baru dapat berlangsung pada Senin (28/9), sementara IRNA mengutip sumber dekat delegasi Iran yang mengatakan tidak ada rencana untuk menggelar putaran baru perundingan dengan AS.

Iran siapkan opsi militer

Di sisi lain, sejumlah pejabat Iran mengisyaratkan bahwa Teheran tetap menyiapkan opsi konfrontasi.

Sumber yang dekat dengan tim perunding Iran mengatakan kepada Fars bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan AS dan 'Israel' maupun ancaman militer yang bertujuan memaksa Teheran memberikan konsesi dalam isu strategis dan militer.

Penasihat senior komandan angkatan bersenjata Iran, yang dikutip Tasnim, juga mengatakan keluarnya pasukan AS dari kawasan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Ia menolak peran AS dalam pengaturan keamanan regional dan menyatakan Iran akan memainkan peran utama dalam membentuk tatanan keamanan kawasan.

Ia juga menyebut pengelolaan Selat Hormuz sebagai instrumen strategis untuk menghadapi blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran.

Ketegangan juga berkaitan dengan Selat Bab al-Mandab. Pejabat tersebut mengaitkan perkembangan di Hormuz dengan kontrol kelompok Houtsi atas Bab al-Mandab, yang menurutnya merupakan bagian dari kegagalan strategis AS di kawasan. Pernyataan tersebut merupakan penilaian pejabat Iran dan dikutip media pemerintah Iran.

Sementara itu, Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Trump mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November, serta memperketat blokade laut dan menjatuhkan sanksi ekonomi tambahan terhadap Teheran.

Menurut laporan tersebut, AS belum melakukan serangan baru terhadap Iran sejak 1 September, meski sejumlah kapal tanker minyak kemudian dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan Selat Hormuz. (zarahamala/arrahmah.id)