WASHINGTON (Arrahmah.id) - Jumlah personel militer Amerika Serikat yang tewas atau terluka dalam perang dengan Iran setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan Operasi Epic Fury berakhir disebut telah melampaui jumlah korban selama 18 pekan operasi tersebut.
Dalam investigasinya, The Intercept menyebut data resmi Pentagon menunjukkan sekitar 880 personel AS tewas atau terluka sejak perang dimulai. Sebanyak 444 korban tercatat dalam 12 pekan setelah 7 Juli, ketika operasi tersebut dinyatakan berakhir.
Artinya, lebih dari separuh korban yang tercatat secara resmi Pentagon terjadi setelah berakhirnya Operasi Epic Fury.
Pentagon saat ini memisahkan korban yang dikaitkan dengan Operation Epic Fury dari kategori Overseas Operations dalam sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS). Pejabat Pentagon sebelumnya mengatakan kategori tersebut digunakan untuk mencatat korban dalam operasi-operasi AS di Timur Tengah setelah Epic Fury berakhir.
Lonjakan korban semakin terlihat pada September. Pentagon baru-baru ini menambahkan 29 personel Angkatan Laut dan delapan Marinir ke daftar korban luka, sehingga jumlah personel AS yang terluka secara resmi mencapai 861 orang, sementara jumlah korban tewas tercatat 19 orang. Pentagon tidak langsung menjelaskan kapan dan bagaimana 37 personel tersebut terluka.
The Intercept, mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa delapan Marinir tersebut terluka dalam serangan rudal jelajah Iran pada 14 September.
Menurut laporan tersebut, para Marinir berada di sebuah kapal yang tidak diidentifikasi di Selat Hormuz ketika kapal itu terkena serangan. Mereka dilaporkan mengalami cedera yang mencakup kemungkinan trauma kepala.
The Washington Post kemudian melaporkan bahwa delapan Marinir mengalami luka ringan, termasuk akibat menghirup asap dan trauma kepala, dalam serangan Iran terhadap kapal nonmiliter. Insiden tersebut sebelumnya tidak diumumkan secara terbuka oleh pemerintah AS.
Pentagon memasukkan delapan Marinir tersebut ke dalam basis data sekitar 10 hari setelah serangan. Angkatan Laut mengatakan seluruh 29 pelaut yang baru ditambahkan telah melalui proses validasi, tetapi tidak mengungkap unit maupun lokasi mereka ketika mengalami luka.
Serangan Iran Rusak Fasilitas AS
Lonjakan korban berlangsung di tengah serangkaian serangan Iran terhadap fasilitas dan personel AS di Timur Tengah.
Sebuah laporan inspektur jenderal Pentagon yang dirilis September mencatat kerusakan pada ratusan bangunan di sejumlah fasilitas AS di kawasan tersebut. Laporan itu juga mencatat kekurangan persediaan sejumlah jenis amunisi strategis akibat perang.
The Intercept mengutip Kepala Staf Angkatan Udara AS Jenderal Ken Wilsbach yang mengatakan personel Angkatan Udara menghadapi lebih dari 1.200 peringatan serangan atau alarm reds dalam periode 38 hari. Tim penjinak bahan peledak juga disebut telah menjalankan lebih dari 420 operasi untuk menangani amunisi yang tidak meledak atau berbahaya.
Salah satu operasi tersebut berujung fatal. Sersan Angkatan Darat AS Michael Emmanuel Swinton, 30 tahun, tewas pada Juli ketika melakukan apa yang disebut militer sebagai peledakan terkendali terhadap sebuah drone serangan Iran di Pangkalan Udara Erbil, Irak. Seorang tentara lainnya terluka.
Pentagon Dituding Tidak Transparan soal Korban
Persoalan lain muncul dari cara Pentagon mengklasifikasikan korban.
Pada Juli, Pentagon memindahkan sejumlah korban tewas dan terluka dari kategori Operation Epic Fury ke kategori baru Overseas Operations setelah operasi tersebut dinyatakan berakhir. Langkah itu menuai sorotan karena korban dari perang yang sama kemudian tercatat dalam kategori berbeda.
Salah satu kasus yang disorot adalah Mayor Sorffly Davius dari New York Army National Guard, yang meninggal saat bertugas di Camp Buehring, Kuwait, pada 6 Maret. Namanya tidak tercantum dalam daftar kematian perang Iran Pentagon karena militer mengategorikan tugasnya sebagai bagian dari misi lain.
Kenaikan jumlah korban tersebut beriringan dengan pernyataan sejumlah pejabat pemerintahan Trump yang mengecilkan skala konflik.
Trump dilaporkan menyebut perang tersebut sebagai “small potatoes”, sementara Wakil Presiden JD Vance mempertanyakan penggunaan istilah “perang” untuk menggambarkan konflik tersebut.
Namun, data resmi Pentagon sendiri menunjukkan bahwa hingga akhir September terdapat 19 personel militer AS yang tewas dan 861 terluka dalam kategori yang berkaitan dengan perang dan operasi lanjutan di Timur Tengah. Angka tersebut masih dapat berubah seiring pembaruan basis data.
Bagi The Intercept, perbandingan antara kedua periode tersebut menunjukkan satu hal: berdasarkan data resmi Pentagon, jumlah korban setelah Operation Epic Fury berakhir telah melampaui jumlah korban selama operasi tersebut berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)
