Memuat...

Ustadz Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin, Wafat di Yogyakarta

Samir Musa
Selasa, 29 September 2026 / 18 Rabiulakhir 1448 14:29
Ustadz Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin, Wafat di Yogyakarta
Ustadz Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin, Wafat di Yogyakarta

YOGYAKARTA (Arrahmah.id) — Ustadz Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin, wafat di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, pada Senin (28/9/2026) pukul 22.00 WIB. Ia meninggal dunia dalam usia 77 tahun.

Kabar wafatnya Muhammad Thalib disampaikan melalui pengumuman duka Majelis Mujahidin. Dalam pengumuman tersebut disebutkan, almarhum lahir pada 30 November 1948 dan meninggal dunia di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Majelis Mujahidin menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tokoh yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam kepemimpinan organisasi tersebut. Dalam pengumuman itu, keluarga besar Majelis Mujahidin juga memohon doa agar Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan rahmat dan ampunan kepada almarhum.

Sekretaris Umum Majelis Mujahidin Ustadz Ahmad Israfiel Mardlatillah saat menjenguk Amir Majelis Mujahidin di kediaman putranya di Bogor, 23 Juli 2025. (Dok. Pribadi)

Tokoh Majelis Mujahidin

Muhammad Thalib merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam perjalanan Majelis Mujahidin sejak organisasi tersebut berkembang di Indonesia. Kajian mengenai sejarah Majelis Mujahidin mencatat Muhammad Thalib sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam organisasi tersebut.

Majelis Mujahidin sendiri dideklarasikan melalui Kongres I di Yogyakarta pada 5–7 Agustus 2000. Organisasi tersebut sejak awal membawa agenda perjuangan penerapan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam struktur kepemimpinan Majelis Mujahidin periode 2013–2018, Muhammad Thalib secara resmi ditetapkan sebagai Ketua/Amir Majelis Mujahidin melalui keputusan Sidang Pleno Ahlul Halli wal ‘Aqdi pada Kongres Mujahidin IV di Sentul City, Bogor, 25 Agustus 2013. Abu Muhammad Jibriel AR ditetapkan sebagai wakil Amir.

Sebelumnya, Muhammad Thalib juga telah dikenal sebagai Amir Majelis Mujahidin. Pada 2013, misalnya, ia masih aktif menjalankan peran tersebut dan menerima kunjungan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di markas Majelis Mujahidin. Dalam kesempatan itu, ia berbicara mengenai peran media Islam dan pentingnya ruang diskusi serta debat dalam jurnalistik.

Kiprah dalam kajian Al-Qur'an

Selain aktivitasnya di Majelis Mujahidin, Muhammad Thalib dikenal luas melalui karya-karyanya dalam bidang kajian dan penerjemahan Al-Qur'an.

Salah satu karya yang paling dikenal adalah Al-Qur'an Tarjamah Tafsiriyah. Karya tersebut menggunakan pendekatan terjemah tafsiriyah, yakni upaya mengalihkan makna ayat Al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan konteks dan kaidah penafsiran.

Situs yang memuat karya tersebut menyebut Muhammad Thalib sebagai penerjemah Al-Qur'an Tarjamah Tafsiriyah dan menjelaskan bahwa penyusunannya merupakan hasil telaah terhadap terjemahan Al-Qur'an yang telah beredar di Indonesia.

Karya Muhammad Thalib tersebut juga menjadi objek penelitian akademik. Sebuah penelitian di Institut PTIQ Jakarta membahas Al-Qur'an Tarjamah Tafsiriyah dan latar belakang keterkaitannya dengan Majelis Mujahidin.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir mengkaji metode dan kecenderungan ideologis yang terdapat dalam karya terjemahan tersebut. Kajian akademik itu menunjukkan bahwa karya Muhammad Thalib tidak hanya dipandang sebagai karya penerjemahan, tetapi juga berkaitan erat dengan gagasan keislaman yang diperjuangkan Majelis Mujahidin.

Sejumlah sumber akademik juga mencatat bahwa Muhammad Thalib lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 30 November 1948. Ia menempuh pendidikan pesantren di Bangil, Pasuruan, dan kemudian dikenal sebagai salah satu murid Abdul Qadir Hassan. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia sempat mengajar sebelum melanjutkan pendidikan ke Madinah.

Dalam perjalanan intelektualnya, aktivitas Muhammad Thalib tidak terbatas pada penerjemahan Al-Qur'an. Ia juga menulis berbagai buku dan risalah mengenai persoalan keislaman. Situs resmi Majelis Mujahidin hingga beberapa tahun terakhir masih memuat sejumlah tulisan yang mencantumkan namanya sebagai penulis.

Wafatnya Muhammad Thalib pada usia 77 tahun meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, murid, serta keluarga besar Majelis Mujahidin. Ia dikenang sebagai tokoh yang selama puluhan tahun aktif dalam dakwah, kepemimpinan organisasi, penulisan, dan kajian Al-Qur'an.

Arrahmah.id turut menyampaikan ucapan takziah yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Ustadz Muhammad Thalib, keluarga besar Majelis Mujahidin, serta seluruh sahabat dan murid beliau. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesabaran dan keteguhan kepada keluarga yang ditinggalkan serta menerima seluruh amal kebaikan almarhum.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan keselamatan kepadanya dan maafkanlah dia.

(Samirmusa/arrahmah.id