WASHINGTON (Arrahmah.id) - Hasil survei global terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa citra internasional 'Israel' berada pada titik terendah sepanjang sejarah, di mana mayoritas publik dunia menyatakan sentimen sangat negatif terhadap negara tersebut serta krisis kepercayaan mendalam kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan antara Februari hingga Mei 2026 di 36 negara, tercatat nilai tengah (median) sebesar 67 persen responden internasional memiliki pandangan buruk terhadap 'Israel', sementara hanya 25 persen yang memandang positif. Kemerosotan reputasi global ini terjadi seiring dengan berlanjutnya agresi militer di Jalur Gaza serta perluasan konflik bersenjata yang diluncurkan bersama Amerika Serikat melawan Iran sejak 28 Februari lalu.
Sentimen negatif ini tercatat sangat ekstrem di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, dan Turki. Namun, survei juga menemukan gelombang penolakan serupa telah meluas secara masif ke benua Eropa.
Di negara-negara seperti Italia, Spanyol, dan Belanda, sekitar setengah atau lebih responden kini menyatakan pandangan yang "sangat buruk" terhadap 'Israel', yang mengindikasikan bahwa kritik terhadap kebijakan Tel Aviv telah merambah ke luar lingkaran aktivis dan menjadi arus utama dalam masyarakat Eropa.
Pew melaporkan bahwa citra buruk 'Israel' melonjak drastis dibanding pada 2025 di 13 negara, termasuk peningkatan signifikan di Argentina (dari 46 menjadi 55 persen), Australia, Nigeria, Polandia, dan Inggris.
Pew Research Center menggarisbawahi bahwa pergeseran persepsi global ini digerakkan secara masif oleh generasi muda serta kelompok ideologi politik kiri. Sebagai contoh, di Hungaria, 72 persen anak muda berusia 18 hingga 34 tahun memandang negatif 'Israel', berbanding terbalik dengan kelompok usia di atas 50 tahun yang hanya menyentuh angka 45 persen.
Pembelahan ideologis ini juga terlihat sangat kontras di Amerika Serikat, di mana 83 persen kelompok liberal menolak 'Israel', berbanding 37 percent dari kelompok konservatif. Kesenjangan pandangan yang lebar berdasarkan afiliasi politik ini juga tercatat di Kanada, Swedia, Prancis, Jerman, Yunani, dan Australia.
Di sisi lain, kredibilitas politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hancur di mata dunia. Mayoritas responden di sebagian besar negara menyatakan tidak memiliki kepercayaan sama sekali atas kapasitas Netanyahu dalam mengelola urusan global.
Penolakan mutlak ini melampaui angka 50 persen di negara-negara sekutu barat termasuk Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Swedia, Kanada, dan Australia. Di Italia, persentase publik yang menyatakan tidak percaya sama sekali kepada Netanyahu melonjak dramatis dari 45 persen pada tahun 2025 menjadi 62 persen pada pertengahan tahun 2026 ini, sebuah tren penurunan kepercayaan yang juga terjadi secara linear di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Utara.
Perubahan drastis dalam lanskap opini publik global ini bahkan telah menembus wilayah domestik Amerika Serikat, yang merupakan sekutu diplomatik dan militer paling krusial bagi 'Israel'.
Survei terpisah yang dirilis oleh lembaga Gallup awal tahun ini memperlihatkan dinamika sejarah baru sejak 2001, di mana warga AS kini tidak lagi lebih bersimpati kepada 'Israel' ketimbang Palestina.
Gallup mencatat sebanyak 41 persen warga Amerika Serikat saat ini menyatakan lebih bersimpati kepada perjuangan rakyat Palestina, berbanding 36 persen yang berpihak pada 'Israel'. Angka ini membalikkan data tahun lalu di mana 'Israel' memimpin keunggulan 13 poin, sekaligus mencatatkan rekor dukungan tertinggi warga AS terhadap pendirian negara Palestina merdeka, khususnya di kalangan pemilih muda, simpatisan Partai Demokrat, dan kelompok independen. (zarahamala/arrahmah.id)
