Memuat...

Massa Venezuela Bakar Bendera Amerika dan "Israel", Trump Klaim Negara Itu Belum Siap Gelar Pemilu

Samir Musa
Sabtu, 25 Juli 2026 / 11 Safar 1448 19:20
Massa Venezuela Bakar Bendera Amerika dan "Israel", Trump Klaim Negara Itu Belum Siap Gelar Pemilu
Para pengunjuk rasa membakar bendera Amerika Serikat dan 'Israel' di Caracas. (AFP)

CARACAS (Arrahmah.id) – Ribuan pengunjuk rasa di ibu kota Venezuela membakar bendera Amerika Serikat dan "Israel" serta menginjak foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh Washington di negara Amerika Latin tersebut.

Aksi yang berlangsung di Plaza Simón Bolívar, Caracas, pada Jumat (24/7), diikuti para pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang saat ini ditahan di Amerika Serikat. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan mengecam apa yang mereka sebut sebagai dominasi Washington di Venezuela.

Mereka juga meneriakkan, "Wahai orang-orang Amerika, pulanglah ke negeri kalian!" serta "Itu bukan bantuan, melainkan penjajahan!" Slogan tersebut merujuk pada bantuan yang diberikan Amerika Serikat dan "Israel" kepada Venezuela setelah dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara itu pada 24 Juni lalu.

Para demonstran membakar foto Netanyahu saat aksi protes. (AFP)

Trump: Venezuela Belum Siap Menggelar Pemilu

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela belum siap menyelenggarakan pemilihan umum, meski menurutnya negara tersebut telah menunjukkan kemajuan.

Saat ditanya wartawan di Gedung Putih mengenai kemungkinan penyelenggaraan pemilu setelah pasukan Amerika menggulingkan pemerintahan Maduro, Trump mengatakan bahwa Venezuela masih membutuhkan waktu.

"Venezuela belum siap menggelar pemilu sekarang, tetapi mereka telah mencapai kemajuan besar di bawah kepemimpinan presiden sementara Delcy Rodríguez," ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa ketika Venezuela dinilai siap menggelar pemilu, Amerika Serikat akan hadir untuk mengawasi proses tersebut secara langsung.

Trump juga sempat menyinggung reputasi Venezuela dalam ajang kontes kecantikan Miss Universe, yang pernah berada di bawah kepemilikannya.

Sementara itu, anggota partai pemerintah dan oposisi Venezuela diketahui telah kembali bertemu bulan lalu. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama sejak kedua pihak menandatangani kesepakatan untuk menyelenggarakan pemilihan presiden pada 2024.

Para demonstran menginjak-injak foto Donald Trump dan Benjamin Netanyahu saat aksi protes. (AFP)

Venezuela dan Peru Pulihkan Hubungan Diplomatik

Dalam perkembangan lain, pemerintah Venezuela dan Peru mengumumkan dimulainya proses pemulihan hubungan diplomatik yang sempat terputus setelah pemilu presiden Venezuela yang diperselisihkan pada 2024.

Melalui pernyataan bersama, kedua negara menyatakan komitmennya untuk secara bertahap memulihkan hubungan bilateral secara penuh.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa negaranya harus terus membangun hubungan internasional melalui diplomasi Bolivarian demi mewujudkan perdamaian.

Pengumuman tersebut disampaikan hanya beberapa hari sebelum presiden terpilih Peru, Keiko Fujimori, dijadwalkan mulai menjabat pada 28 Juli.

Hubungan Caracas dan Lima sebelumnya diputus setelah Peru mengakui kemenangan pemimpin oposisi Venezuela dalam pemilu 2024, berbeda dengan hasil resmi yang diumumkan otoritas pemilu Venezuela saat itu yang menetapkan Nicolas Maduro sebagai pemenang.

Peru merupakan negara tujuan terbesar kedua bagi migran Venezuela setelah Kolombia. Saat ini, lebih dari 1,6 juta warga Venezuela tinggal di negara tersebut.

Sebagaimana diketahui, pada Januari tahun ini pasukan Amerika Serikat menangkap Nicolas Maduro. Sejak saat itu, pemerintahan sementara dipimpin oleh Delcy Rodríguez yang disebut memiliki hubungan dekat dengan Washington.

(Samirmusa/arrahmah.id)